Islamofobia dalam Tubuh Islam

Oleh sebab demikian, sebelum usaha memerangi Islamofobia yang saat ini semakin marak dikampanyekan di ruang-ruang publik, ada usaha mendasar yang harus dilakukan sebagai perbaikan dari dalam, yakni nalar kekerasan (radikal-ekstremis) yang diabsahkan dengan dalil-dalil keagamaan. Jika ditilik, muaranya adalah bagaimana wajah Islam di Barat itu menampakkan sisi kekerasannya dalam hal metode pendakwahan dan hubungannya dengan agama yang lain.

Sehingga yang menjadi persoalan bukan menumpas Islamofobia karena membatalkan suatu ekspresi hak kemanusiaan, melainkan fanatisme beragama kelompok tertentu yang berhasil membentuk suatu narasi dan gerakan Islamofobia di satu sisi, sekaligus menjelaskan bagaimana konsep beragama umat Islam yang penuh dengan kekerasan dan jauh dari nilai kemanusiaan di sisi yang lainnya. Maka, perbincangan ulang ihwal konsep berislam yang mendasar dan fitrah perlu diinterpretasi secara berulang-ulang,

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berislam dengan Fitrah

Diturunkannya Islam adalah bentuk kecintaan Tuhan terhadap manusia. Tidak ada unsur kekerasan sama sekali dalam Islam, baik secara konsep syariat, metode dakwah, dan dasar ijtihad. Hal itu jelas diabadikan bagaimana ketika terutusnya Rasulullah tidak lain adalah ihwal kemanusiaan (Innama bu’itstu li utammima makarimal al-akhlaq). Juga, dalam Al-Quran Surah al-Anbiyaa ayat 107, dikatakan maqashid Islam tidak akan pernah terwujud kecuali membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Jadi, jika boleh dikata, Islam sangat humanis dan jauh dari nalar kekerasan.

Akan tetapi, dalil dasar Islam itu saling berkelindan dengan konsep-konsep keislaman yang lain. Bahkan, terdapat teka-teki misteri yang Allah sendiri enggan menjelaskan dengan gamblag dari ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Quran (ayat mutasyabbihat). Kemudian, Tuhan sendiri memasrahkan otoritas pemaknannya kepada Rasulullah Saw (hadis), yang pada gilirannya juga otoritas itu diwariskan kepada orang yang ‘alim dan ‘allamah setelah wafatnya Nabi sehingga lahir pedoman berislam lainnya, seperti, ijma’ dan qiyas (Said Agil al-Munawar, 2022).

Tinggalkan Balasan