Syaikh Ahmad al-Marzuki, dalam lima bait monumentalnya pada kitab Aqidatul Awam, tidak sekadar sedang menyusun rima yang estetis. Beliau sejatinya sedang membangun sebuah peta jalan bagi para pemula yang barangkali masih tersesat dalam belantara skeptisisme.
Di tengah dunia yang mendewakan rasionalitas, al-Marzuki menyuguhkan pemahaman yang sederhana namun sarat akan kedalaman tafsir (syarh), mengajak kita menilik kembali peristiwa Isra Mikraj bukan sebagai dongeng masa lalu, melainkan sebagai bentuk persaksian atas kemuliaan tanpa batas.

Melampaui Logika Ruang-Waktu
Bait ke-empat puluh enam dan empat puluh tujuh dalam Aqidatul Awam menegaskan dimensi kronologis dan geografis yang krusial:
وَقَبۡـلَ هِجۡـرَةِ ٱلنَّـبِيِّ ٱلۡإِسۡرَا * مِـن مَّـكَّةَ لَيۡلاً لِقُدۡسٍ يُدۡرَى
وَبَعۡدَ إِسۡـرَاءٍ عُرُوجٌ لِلسَّـمَا * حَتَّى رَأَى ٱلنَّـبِيُّ رَبًّا كَـلَّمَا
“Sebelum hijrah, Nabi Isra malam hari dari Makkah ke Baitul Maqdis yang dikenal suci. Lantas Nabi naik ke langit setelah Isra, hingga beliau melihat Tuhan yang berfirman secara nyata.”
Bagi setiap mukallaf, meyakini keajaiban ini adalah sebuah keniscayaan iman. Peristiwa agung yang secara masyhur terjadi pada 27 Rajab—setahun sebelum fajar Hijrah menyingsing—merupakan perjalanan yang melampaui logika materi. Dimulai dari kesucian Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis, hingga menembus tirai langit menuju Sidratul Muntaha. [1]
Di puncak tertinggi eksistensi itulah, Sang Nabi bukan sekadar saksi atas ayatina al-kubra (ayat-ayat kebesaran Tuhan yang mahadahsyat), melainkan menjadi wadah bagi curahan rahmat yang mengalir langsung dari singgasana-Nya. Inilah puncak keintiman antara Sang Khalik dan kekasih-Nya yang paling mulia.
Namun, di balik kemegahan teologisnya, Isra Mikraj menyimpan sisi yang sangat “manusiawi”. Peristiwa ini adalah sebuah spiritual tourism (wisata hati) yang dianugerahkan Allah sebagai kompensasi atas duka mendalam (‘amul huzni) pasca wafatnya Abu Thalib dan Sayyidatuna Khadijah.[2]
Menariknya, sebagian komentator (syarih) lain —seperti Syaikh Nawawi Banten disalah satu kitab syarh ‘Aqidat al-Awwam— menyebutkan bahwa perjalanan ini juga dipicu oleh kerinduan penghuni langit yang ingin berjumpa dengan sosok Rasulullah. Di sini kita belajar: hiburan bagi seorang Nabi bukanlah gemerlap pasar atau kesenangan artifisial, melainkan perjalanan melintasi batas menuju Qudsin Yudro. Bahkan kekasih Tuhan pun membutuhkan penguatan spiritual via pertemuan langsung dengan Zat yang dicintainya untuk membalut luka lara di bumi.
