Ketika Emak-emak Berhadrah, Gen-Z yang “Ngemsi”

Selasa malam, 27 Januari 2026, bengkel kerja jejaring duniasantri (JDS) lantai 3 di Jalan Garuda II Nomor 7, Kelapa Dua, Depok, menjelma menjadi ruang perjumpaan yang hangat dan bersahaja. Ruang semi-outdoor itu tidak ditata dengan kursi-kursi berbaris rapi, melainkan dibiarkan terbuka dan bernapas apa adanya.

Para tamu duduk lesehan, beralas tikar dan karpet, menciptakan suasana yang sejak awal terasa akrab dan tidak berjarak—seolah ruang tersebut memang disiapkan untuk mempertemukan lintas generasi dalam posisi yang setara, tanpa sekat, tanpa panggung tinggi, tanpa hierarki yang kaku.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/
Nayla dan Kayla.

Ketika waktu bergerak menuju pukul 18.30 WIB, dua sosok muda mengambil peran penting di tengah ruang lesehan itu. Mereka adalah Nayla Authar dan Kayla Nareswari, dua generasi Gen-Z yang bertugas memandu jalannya acara. Mereka menjadi master of ceremony (MC). Generasi mereka menyebutnya “ngemsi“.

Kayla Nareswari merupakan siswi SMK BOASH 1, kelas 12 BROADCASTING 1 Bogor, sementara Nayla Authar adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Latar pendidikan yang berbeda itu justru memperlihatkan satu kesamaan: keduanya terbiasa berada di ruang-ruang perjumpaan, ruang dialog, dan ruang belajar yang menuntut kepekaan membaca situasi, sekaligus ketenangan dalam menghadapi keragaman usia dan pengalaman.

Sebagai pemandu acara, Nayla Authar dan Kayla Nareswari tampak tidak canggung, sekalipun yang hadir malam itu adalah para tokoh nasional, generasi milenial, hingga emak-emak yang telah lebih dulu mengisi ruang. Cara mereka berdiri, menyapa, lalu kembali duduk lesehan menunjukkan sikap yang tenang dan terukur. Keduanya seolah berhadap-hadapan dengan lingkar pergaulan mereka sendiri—baik di bangku sekolah (Kayla) maupun di ruang kampus (Nayla)—tanpa beban hierarki yang kaku, tanpa gestur yang ingin meninggikan diri.

Nayla dan Kayla membuka acara dengan sigap. Mereka menyapa hadirin dengan suara yang stabil dan ekspresi yang bersahaja. Tidak ada gestur berlebihan, tidak pula nada yang dibuat-buat. Dalam ruang lesehan yang cair itu, kehadiran mereka terasa menyatu dengan suasana. Bukan menonjol untuk menegaskan posisi, melainkan hadir untuk merawat alur dan kebersamaan.

Suasana diskusi buku.

Acara kemudian dibuka dengan penampilan Hadrah Banjari Assalam, yang anggotanya adalah para ibu, atau emak-emak dalam bahasa pergaulan saat ini. Emak-emak yang sejak awal duduk lesehan itu perlahan bergeser, mengambil posisi tampil tanpa hiruk-pikuk. Rebana mulai ditabuh, lalu lantunan selawat pun mengalun—sebuah ungkapan cinta yang ditujukan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Nabi Pujaan yang kehadirannya senantiasa dirindukan dalam ingatan dan doa. Setiap irama terasa seperti sapaan, setiap bait seperti salam penyambutan, mengikat ruang dengan cinta dan kerinduan yang sama.

Tinggalkan Balasan