Isra Mikraj dan Kesalehan Artifisial

Maksud saya, kontak suci tersebut adalah perilaku yang menghasilkan kebaikan pada sesama. Saling bertanggung jawab atas kehidupan publik, tidak saling tusuk dan saling mendominasi, tetapi menjadi pengaman publik. Di sini, harus ada nilai-nilai kemanusiaan di setiap derap langkah kita sebagai makhluk yang hidup di bumi, dengan meniscayakan kenyamanan-kedamaian.

Kamanusiaan hanya bisa berjalan jika diorientasikan kepada Tuhan dan juga kepada manusia itu sendiri. Sungguh tidak masuk akal jika di antara keduanya hilang dan saling mencederai. Seperti perilaku teroris, di mana semuanya ingin dihibahkan kepada Tuhan. Tetapi, pada saat yang sama, kepada manusia saudaranya sendiri ia sangat beringas. Apa yang terjadi di sana adalah jalan religius yang fatal, yang membahayakan, bahkan mengancam. Jalan religius sesungguhnya adalah jalan yang mewujudkan the human right atau kedamaian kepada sesamanya (Maksun, 2019).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan kata lain, Isra Mikraj ini tidak melulu mengingat pada spektrum Ilahi, tetapi juga harus mengingat pada spektrum kemanusiaan. Secara metafisis keduanya harus menyatu dalam sebuah kesadaran batin, sehingga dalam perilaku keilahian dan kesehariannya menjadi sesuai dengan norma Ilahi. Dengan bahasa lain, gerakan keimanan harus berdiri pada satu gerakan: gerakan keilahian sekaligus gerakan kemanusiaan.

Jika itu bisa dilakukan, maka sifat-sikap demoral-radikalis, perasaan pesimistis, perilaku koruptif akan hilang. Tetapi perilaku di atas akan memberi kekuatan di hati semua orang. Isra Mikraj senantiasi menjadi orbit momentum pada diri dalam memikrajkan perilaku kita sebagai Muslim.

Tinggalkan Balasan