Isra Mikraj dan Kesalehan Artifisial

Ironisnya, kita kembali tidak mengenali asal kita: manusia. Di era masyarakat modern yang menganut paham permisivisme, ultraliberal, dan semacamnya, kita kehilangan kemanusiaan. Saling tusuk, saling hantam, saling tikam dan saling jarah sudah menjadi fenomena harian. Dan itu yang kini malah dijunjung dan dipertebal. Apalagi, diperburuk oleh Generasi Sandwich dan politisi yang tidak mau berpikir bagaimana mengakhiri, paling tidak memperkecil, tetapi malah menambah persoalan menjadi guram.

Kehidupan-kehidupan normatif kini makin membuncah. Sayangnya itu juga berimplikasi negatif pada perilaku kehidupan kita sekarang, bahkan nantinya terhadap generasi selanjutnya. Sebenarnya, kalau dilihat azbab an-nuzulnya, fenomena itu juga pernah terjadi kepada masyarakat pra-Islam, sebelum Nabi Muhammad SAW diperintah menjalankan misi profetiknya sebagai nabiyullah. Di mana, masyarakat masa itu tidak mengenali batas-betas menjadi manusia seutuhnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Orbit keserakahan tumbuh dan bahkan telah menjadi kangker yang saling menjangkiti bangsa. Bahasa sekarang telah menjadi political commodity. Seperti sikap arogan, anarkis, radikal, amoral, antikejujuran bercokol dalam tubuh bangsa Ini. Itu sama dengan kata Marciano Vidal, di mana demoralisasi individual menjadi bukti bahkan tambah meningkat, kemudian kejahatan moral dan kondisi masyarakat yang kian tak peduli dengan moral, dan tetapi pada pikiran dan sikap paling radikal membentang di hadapan kita.

Momentum Isra Mikraj

Pada momentum Isra Mikraj ini, sesungguhnya tepat untuk membersihkan sifat-sikap  demoral dan radikalis di atas. Mikraj harus diartikan sebagai langkah kongkrit untuk memikrajkan hakikat kehidupan kita menjadi lebih baik. Seperti Mikrajnya Nabi, ia bukan saja untuk meningkatkan spiritualitas keimanan, melainkan juga sebagai orientasi terjalinnya dialog atau kontak suci di antara sesama manusia.

Tinggalkan Balasan