Israel dalam Tafsir

Dengan demikian, mengkaji istilah “Israel” melalui perspektif tafsir, khususnya pendekatan Quraish Shihab, menghadirkan pemahaman yang komprehensif dan proporsional terhadap makna nama tersebut dalam kerangka kenabian.

Nama “Israel”, yang merupakan gelar ilahi bagi Nabi Ya‘qub sebagai “Hamba Allah”, tidak selayaknya disamakan secara serampangan dengan perilaku keturunannya pada masa kini yang justru banyak menyimpang dari ajaran para nabi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Realitas kontemporer menunjukkan bahwa sebagian besar entitas yang mengklaim warisan Bani Israil telah bergeser jauh dari nilai-nilai tauhid, keadilan, dan kasih sayang yang dibawa oleh leluhur mereka. Ketimpangan ini tercermin dalam tindakan politik, penindasan, dan agresi yang seringkali mengatasnamakan identitas agama atau sejarah, tetapi sejatinya bertentangan dengan misi kenabian itu sendiri.

Oleh karena itu, memahami istilah “Israel” tidak cukup hanya melalui kacamata historis atau politis, melainkan harus melalui kerangka tafsir yang cermat, yang membedakan antara kemuliaan seorang nabi dan penyimpangan moral sebagian pengikutnya. Tafsir yang bertanggung jawab menuntut kejelian dalam memilah mana yang sakral dan mana yang profan, agar warisan kenabian tidak tercemari oleh perilaku kaum yang mengkhianatinya.

Tinggalkan Balasan