Jalan Jodoh Santri

“Waalaikumsalam. Pak Fatoni ada di dalam kantor. Mungkin lupa kalau hari ini ada jadwal di kelas kalian.”

Fikri pun menemui Pak Fatoni di kantor kemudian menyampaikan bahwa saat ini Pak Fatoni ada jam di kelas XI IPS 2. Saat sampai di depan kelas XI IPS 1, Pak Fatoni menyalami Abah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ini tadi mengapa Bapak telat mengajar?”

“Sepuntenipun Bah, saya lupa jika ada jam di kelas XI IPS 2.”

“Lain kali, Bapak harus sering mengecek jadwal agar tidak terjadi seperti ini lagi.”

Walau pun sudah sepuh, Abah tetap ingat karakter setiap guru di MA Al-Hikmah. Beliau tahu, bahwa Pak Fatoni adalah orang yang tidak pernah izin kecuali sakit atau ada hal yang lebih penting daripada tugas mengajarnya. Begitulah cerita tentang kebijakan Abah yang diungkapkan di ruang guru. Cerita itulah membuat Nopi takzim kepada Abah.

***

Selang satu semester Nopi mengajar di MA Al-Hikmah, Pak Pras, teman kuliah sekaligus guru Bahasa Indonesia kelas XII, berpamitan kepada seluruh guru bahwa ia tidak bisa mengajar lagi di MA Al-Hikmah. Kejadian tersebut membuat MA Al-Hikmah kekurangan guru Bahasa Indonesia.

Pagi itu sebelum pembelajaran dimulai, Bu Linda sedang mengobrol dengan Pak Heru, Wakil Kepala Kurikulum MA Al-Hikmah.

“Pak, saya kelebihan beban mengajar. Dalam satu minggu saya harus mengajar 38 jam. Apa Pak Nopi sudah tidak bisa ditambah lagi jam mengajarnya?”

“Sudah tidak bisa, Bu. Pak Nopi sudah mengajar 38 jam. Solusinya hanya bisa mengangkat guru baru.”

Nopi terlihat berjalan dari arah parkir menuju ke arah Pak Heru dan Bu Linda yang sedang mengobrol.

“Pak Nopi, bagaimana, masih sanggup kan menggantikan Pak Pras?”

“Sebenarnya sedikit kelebihan beban Pak, sehingga saya sering salah jadwal.”

“Bu Linda juga bercerita begitu. Saya memiliki solusi Pak. Mungkin sampean punya teman guru Bahasa Indonesia yang ingin mengajar di pondok ini, silakan ditawarkan,” usul Pak Heru.

“Ya Pak, nanti coba saya sebarkan informasi kepada teman-teman kuliah saya dulu.”

***

Mei yang lama bekerja di Surabaya ingin pulang ke Kediri. Biaya hidup yang besar memaksanya untuk mencari penghasilan tambahan. Teman kuliahnya, Uchti, memberi tahu bahwa di Kediri ada MA yang membutuhkan seorang guru Bahasa Indonesia. Hatinya berkecamuk ketika ada juga lowongan guru les di sebuah LBB. Ia semakin bimbang, apakah harus diambil pekerjaan itu atau pulang ke Kediri.

“Aku sudah pernah mengajar sepuluh tahun di Surabaya. Tetapi aku memutuskan pulang karena selama sepuluh tahun bekerja di sana aku hanya membawa motor,” jawaban Uchti ketika dimintai pertimbangan tentang harus pulang atau tidak. Selain itu, Jum juga memberikan pertimbangan.

“Hidup di kota kita cenderung komsumtif karena banyak toko-toko dan jaraknya dekat-dekat. Kalau di desa lebih irit.”

***

Budaya mencarikan pasangan hidup di Pondok Pesantren Al-Hikmah memang begitu kental. Kali ini Nopi pernah dikenalkan oleh banyak guru-guru MA Al-Hikmah.

“Pak, sampean sudah punya pacar?” Pak Sulkim bertanya dengan nada guyon.

“Belum Pak.”

“Masa sih pak? Ini ada guru PNS bekerja di MAN 2 Kediri yang sedang mencari jodoh bekerja di pesantren. Barang kali sampean minat, nanti saya kenalkan.”

Nopi hanya tersenyum. Dalam hatinya dia takut jika beristrikan seorang yang lebih mapan dari dirinya.

Tinggalkan Balasan