Berselang beberapa hari dari percakapan dengan Pak Sulkim, Nopi dipanggil Abah untuk mengahadap ke kantor kepala madrasah.
Nopi bersimpangan dengan Mei. Wajah Mei terlihat tak asing di padangan Nopi. Mei pun menatap Nopi; ia ingat dulu Nopi pernah sekelompok dengannya waktu presentasi mata kuliah Sosiolinguistik. Keterbatasan dosen pengampu Sosiolinguitik membuat kelas kuliah PNA dan PNB dijadikan satu. Saat itulah mereka bertemu selama satu semester.

Karakter islami sudah melekat pada semua warga MA Al-Hikmah, Nopi ingin menyapa tapi takut ada hubungan antara ia dan Mei. Akhirnya, Nopi memberanikan diri untuk mengawali menyapa
“Kamu Mei?”
“Hei, iyo. Kamu Nopi ya?”
“Heem. Sedang apa di sini?”
“Melamar kerja. Kemarin aku di SMS sama Ucthi kalau MA Al-Hikmah sedang membuka lowongan guru.”
“Kamu ngejar di sini?”
“Ya, Mei. Aku sudah satu tahunan mengajar di sini. Aku masuk ke kantor dulu soalnya tadi dipanggil Abah.”
Mereka pun berjalan menjauh. Langkah Nopi diayunkan menuju kantor Abah, sedangkan Mei membimbing kakinya menuju parkiran.
Nopi mengetuk pintu, kemudian mengucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, silakan masuk Pak.”
“Injih, Bah.”
“Saya mau menanyakan tentang alumni Unesa yang melamar di MA sini. Mungkin Bapak mengenal. Coba lihat fotonya ijazah ini. Sepertinya tidak sama dengan pas foto yang terlampir di surat lamaran.” Abah menyerahkan sebuah berkas kepada Nopi.
“Injih, Bah, memang ini teman saya kuliah.”
***
Tiga bulan sudah Bu Mei mengajar di MA Al-Hikmah. Saat pagi sebelum memasuki kelas, Nopi menyempatkan menyalami Abah di tengah lapangan MA Al-Hikmah.
“Bagaimana Bu Mei menurut sampean, Pak?” tanya Abah kepada Nopi.
“Menawi masalah kemampuan mengajar sudah tidak perlu diragukan lagi, terbukti anak-anak nyaman waktu diajar.”
“Bukan masalah itu. Tetapi jika dijadikan istri Bapak?”
Nopi tertegun sebentar. Tak menyangka Abah menanyakan itu.
“Saya dengar kemarin sampean dijodokan oleh Pak Sulkim, tetapi belum menjawab. Bu Mei itu sudah mengajar di sini tiga bulan. Saya amati begitu disiplin. Mungkin sampean lebih mengenal.”
“Kalau saya tidak berkeberatan. Tapi apa….”
“Gampang itu, Pak. Nanti saya bantu.”
