Jalan Jodoh Santri

Ahad pagi ini merupakan hari yang di luar kebiasaan. Nopi tidak bisa melihat serial Doraemon, film kesukaannya. Ia harus berangkat mengajar di Madrasah Pondok Pesantren Al-Hikmah.

“Pagi-pagi mau mandi. Kamu mau mana ke mana?” tanya Bu Ismi, ibu Nopi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Saya lupa menceritakan ke ibu, kalau MA tempat saya mengajar liburnya hari Jumat. Hari ini saya ada jadwal mengajar di MA Bu.”

“Minggu-minggu masa masuk sih, Nop?” celetuk Mbak Ayu.

“Kata Pak Kiai Pesantren Al-Hikmah, ‘hari Jumat itu sayyidul ayam atau tuannya hari. Sebagai umat muslim, kita harus menghormatinya dengan cara memperbanyak ibadah.’ Makanya diliburkan, Mbak.”

Sejak awal berdiri sampai sekarang, pengurus Pondok Pesantren Al-Hikmah memang sudah menyepakati bahwa meliburkan aktivitas santrinya di hari Jumat. Ketika awal wawancara seleksi menjadi guru Madrasah Aliyah Al-Hikmah, Nopi sudah beritahu oleh Pak Heru bahwa jika Nopi diterima sebagai guru, ia harus masuk di hari Ahad.

Jarak rumah Nopi ke MA sekitar 12 km, tetapi uniknya harus keluar dari kabupatennya. Ia tinggal di Kabupaten Nganjuk, sedangkan MA di Kabupaten Kediri. Ia juga harus melintasi tiga kecamatan. Dengan mengendarai motor Supra X peninggalan ayahnya, hanya butuh waktu 20 menit dengan kecepatan 50 km/jam.

Sesampainya di madrasah, Abah Dain, Kepala MA Al-Hikmah, sedang berdiri di depan kantor dekat pintu masuk siswa. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap pagi sebelum pukul 07.00. Beliau mengawasi para santri yang berangkat ke sekolah.

Para guru yang datang langsung menyalami Abah dengan mencium tangannya. Adab ini baru diketahui Nopi karena ia tidak pernah nyantri. Usai bersalaman dengan Abah, Nopi hendak menuju kantor guru, tetapi Abah menghentikan langkahnya dengan sebuah pertanyaan.

“Bapak sudah menikah?”

“Belum, Bah.”

“Sudah punya calon istri?”

“Saya belum mapan, Bah. Jadi belum berani mencari calon,” jawab Nopi sambil tersenyum canggung.

Nopi belum pernah bertemu sosok yang kharismatik seperti Abah Dain. Memang dia belum mengenal dengan baik Abah. Tapi teman-teman gurunya sudah sering bercerita tentang karakter kepemimpinan sekaligus keilmuan Abah.

***

Pak Fatoni pernah bercerita bahwa pernah suatu ketika ia terlambat masuk kelas karena lupa jadwal mengajar di kelas XI IPS 2, tetapi Abah menegurnya dengan lembut.

Saat Pak Fatoni terlambat, siswa-siswa mengira bahwa mata pelajaran Ushul Fikih kosong, tidak ada pelajaran, sehingga anak-anak keluar. Melihat banyak siswa yang keluar kelas, Abah menghampirinya.

“Waktunya siapa ini?” anak-anak pun berlarian memasuki kelas.

“Wanci nipun Pak Fatoni, Bah?”

“Sudah sampean cari di kantor, Pak Fatoni?”

“Belum, Bah.”

“Kalian itu di sini nyantri, menimba ilmu. Orang tua kalian itu membiayai kalian dengan susah payah agar bisa mondok dan bersekolah. Kalau ada jam kosong segera konfirmasi ke guru piket. Menanyakan apa memang benar guru mata pelajaran tersebut tidak hadir dan meminta tugas jika memang tidak hadir. Jika kalian tidak diajar atau diberi tugas, maka kalian sendiri yang rugi.”

“Injih, Bah,” jawab seisi kelas.

“Ayo, lekas, ketua kelas atau wakil segera menemui guru piket.”

Fikri, ketua kelas XI IPS 2, seketika itu berlari untuk menemui guru piket. Abah tetap menunggu di depan pintu kelas.

“Assalamuaikum, Bu. Saya ingin menanyakan, apa Pak Fatoni menitipkan tugas kepada guru piket?”

Tinggalkan Balasan