Lelaki itu terus termenung dengan tatapan yang seolah tidak memiliki pandangan pasti. Bayangan surya purna tugasnya di ufuk Barat. Tampak jelas gurat kesedihan bersama dagangan yang masih banyak di pundaknya. Ramai jalanan lintas provinsi seolah tak mampu menembus keheningan dalam diamnya.
“
Mas Jamal! Tolong camilan dan jus jambunya tiga,” terdengar sebuah suara, ketika lelaki itu hendak memasuki gang kontrakan.

Mendapati pesanan itu, raut bahagia tampak jelas menghiasi dirinya. Tangkas, diturunkannya dagangan di pundaknya, lantas segera membungkus pesanan orang tersebut. Saat hendak memberikan pesanan si pembeli, lelaki itu tampak kebingungan. Dipanggilnya orang yang memesan, namun tidak ada sahutan. Hanya bising kendaraan, suara orang yang mengaji di masjid, dan gemericik aliran sungai di samping kirinya. Hingga, dirinya dikagetkan raungan mesin RX-King yang mengepulkan asap tebal.
“Ha-ha-ha…! Dasar perusak pemandangan! Sana pergi bawa semua dagangan busukmu itu!” teriak si pemesan tadi, sembari menggeber motornya di depan Jamal.
***
Langit Barat semakin redup menyempurnakan suasana senja. Suara bacaan tarhim mengudara bebas diterbangkan angin. Jamal masih berdiri di tempat yang sama, diam mematung. Waktu terasa berjalan sangat cepat. Tidak terasa, dirinya berdiri di pinggir trotoar; tempat dia dipermainkan brandalan, selama lima belas menit. Matanya yang terpejam, tampak deras dilewati air mata. Sebenarnya siapa yang merusak pemandangan? Apakah dirinya? Atau orang-orang seperti mereka yang hatinya membeku hingga mudah sekali mempermainkan hidup sesama manusia?
“Abba kok malah di sini? Kenapa menangis?” ujar sebuah suara yang menyadarkan Jamal.
“Ndak apa-apa, Saila. Kok malah ke sini? Padahal abba mau pulang, sudah tidak sabar mendengar dongeng dari Umma,” balas Jamal sembari merapikan dagangan, lantas menerima gandengan tangan anak bungsunya itu.
Lantunan azan dari pucuk-pucuk corong masjid, tempat tinggal ayah dan anak itu, menemani langkah mereka ke kontrakan. Saila tak henti-hentinya berceloteh tentang teman di sekolahnya. Ada yang baik, jahil, dan menyukai hal yang sama dengan dirinya, yaitu dongeng.
“Assalamualaikum, Abba! Semoga berkah ya rezeki hari ini,” sambut seorang perempuan, saat Jamal tiba di pintu kontrakan.
“Maafkan Abba ya Umma. Hari ini tidak banyak yang…” Belum selesai Jamal menjelaskan hasil berjualan, wanita muda di hadapannya menyela, “Semua sudah diatur oleh Allah, Abba. Kita hanya berusaha, selebihnya kita syukuri saja,” ujar wanita itu dengan senyuman di bibirnya yang tipis.
Mendapati jawaban demikian dari seseorang yang sangat Jamal cintai, rasa haru membuncah di relung terdalam hatinya. Dia sadar ketika kemarin malam hendak mengambil wudhu, tidak sengaja dia mendengar gumaman istrinya itu: “Ya Allah beras kami hanya tinggal dua gelas. Semoga Engkau memberikan yang terbaik pada hasil penjualan suamiku besok.”
***
Ruangan sederhana yang berisikan kursi kayu, rak buku, dan sebuah radio jadul di pojokan, menjadi pelepas lelah Jamal. Keringat dan bau asap kendaraan kental menyucupi tubuhnya. Dalam diamnya, Jamal kembali merenungi peristiwa beberapa tahun lalu. Masa yang sulit baginya.
Dalam ruang interogasi, Jamal tampak tak karuan. Baju robek, pelipis berdarah, bibir pecah, dan kuku yang lepas karena dipukul martil sukses membuatnya meringis. Berulang kali dia dipaksa untuk mengakui kalau dia yang membuat tulisan yang tajam mengkritik rezim. Hantaman dan setruman tidak Jamal pedulikan. Yang dia tahu jika nasib masyarakat itu adalah harga mati.
“Heh, jurnalis sialan! Terus siapa yang membuat poster dan artikel itu, hah?!” bentak seorang anggota militer. Jamal hanya terdiam. Sudah dia jelaskan berulang-ulang, bahwa bukan dirinya di balik artikel yang diterbitkan koran tersebut.
“Kau bisu, hah?! Jawab!” Yang diajak bicara hanya terdiam. Tak sedikitpun memberikan respons.
“Sialan, nantang kau! Rasakan ini!” berbarengan dengan bentakan itu; sang anggota militer memberikan setruman dan pukulan keras benda tumpul di kepala belakang Jamal. Sontak hanya kegelapan yang terjadi selanjutnya. Dalam keheningan itu, tiba-tiba Jamal merasakan usapan lembut di pundaknya.
