Jamal dan Sepikul Aksara

“Sudahlah, Abba. Tidak usah dipikirkan lagi kejadian bertahun lalu itu.”

“Tapi andai malam jahanam itu tak terjadi, mungkin kini aku tidak kehilangan penglihatan seperti ini,” ratap Jamal nelangsa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Safira hanya mampu menghela napas berat. Cukup panjang dia menemani suaminya itu bangkit dari keterpurukan. Dirinya mengenal lelaki tangguh itu di sebuah perkumpulan jurnalis yang selamat dari penculikan misterius yang dilakukan rezim militer pada tahun 1990-1996-an. Banyak rekan Jamal yang terbunuh, diculik, dan dianiaya oleh pihak yang merasa dirugikan oleh sepak terjang para wartawan. Jamal diselamatkan oleh para aktivis yang berhasil melengserkan pemerintahan diktator masa itu. Hati kecilnya ingin selalu merangkul lelaki itu. Dia tahu siksaan fisik itu cukup membekas bahkan memberikan hal nyata di fisiknya.

“Ya sudah, Abba. Sekarang lekas bersih-bersih saja. Kami tunggu di meja makan,” saran Safira, berlalu dari hadapan Jamal dan mengingatkan si kecil Saila untuk makan malam.

***

Tepat saat ayam mulai berkokok dan selesai melaksanakan salat Subuh, Jamal tampak tergesa dengan kertas di tangannya. Lembut dia berpamitan pada sang istri, “Doakan ya surgaku. Semoga hari ini dilancarkan.”

“Aamiiin, Abba! Berkah selalu langkahmu.”

Raut wajah Safira tampak bingung dengan sikap suaminya pagi ini. Pasalnya beberapa waktu lalu dia meminta untuk diajarkan mengetik di mesin tik dan menghapal keyboardnya. Berbarengan dengan hal itu, malam-malam sebelumnya, di ruang baca, sebelum tidur dia selalu mendengar suara jarum mesin tik beradu dengan kertas. Namun, paginya dia tidak menemui adanya bekas aktivitas menggunakan mesin tik.

“Berangkat dahulu ya Umma.”

“Nggeh Abba, hati-hati.”

Setelah berpamitan, Jamal bergegas dengan dagangan di pundaknya. Beberapa kertas misterius tampak menyembul dari sela dagangan. Jalanan pagi yang sejuk, menemani keyakinan yang terpancar dari wajah Jamal.

“Camilan, camilan, camilan!” teriak Jamal sambil menyusuri trotoar kota. Saat menemukan kotak pos, segera dimasukkannya kertas yang dipegangnya dan tak lupa meninggalkan uang di dalamnya.

Suasana sore hari ini, tampak cerah. Semburat jingga indah bertabur di langit Barat. Jamal merasa hari ini, orang yang di temuinya, seakan merasakan suasana indah yang ada di langit. Pancaran bahagia tampak di wajah Jamal. Di sela langkah kakinya, dia bersenandung menikmati suasana menuju kontrakan.

“Alhamdulillah, ya Allah! Habis daganganku,” gumam Jamal di sela ayunan tongkat yang menuntunnya. Belum jauh meninggalkan tempat di mana dirinya pernah dipermainkan oleh para preman, suara anak kecil menyapanya.

“Pak, tolong ikhlasnya! Saya belum makan seharian,” rintih anak tersebut.

“Loh kok bisa belum makan, nak?”

Tinggalkan Balasan