“Jangan sampai kita ngefans berat dengan ustadz di Youtube, tapi melupakan guru kita sendiri,” ujarnya. Maraknya dakwah melalui Internet, menurut KH Muhayat, memang bisa menyebabkan orang lupa mendatangi majlis taklim maupun mondok di pesantren karena sudah kecanduan ustadz di Youtube. “Dianggapnya belajar agama cukup dengan online,” tandasnya.
Padahal, demikian KH Muhayat melanjutkan, guru adalah kunci kebahagiaan dan keberkahan ilmu dari seorang murid atau santri. Begitu juga, kesuksesan santri di tengah masyarakat, amat bergantung pada sejauh mana santri tersebut menjaga hubungan baik dengan gurunya. Murid akan buta tanpa ada bimbingan dari guru. Sebab, guru ibarat penerang di saat gelap. “Maka, sudah selayaknya murid mengagungkan dan memuliakanya,” katanya.

Itulah kenapa, lanjutnya, dalam tradisi pesantren, agar mendapat keberkahan ilmunya, seorang santri tiada jalan lain kecuali sam’an wa tha’atan, mendengar dan mematuhi apa pun yang diarahkan gurunya.
