“Saya melihat potensi pesantren luar biasa. Ada 6 ribu lebih pesantren di Jatim. Sidogiri bahkan sudah menunjukkannya dengan membangun jejaring lewat retail dan perbankan syariahnya,” kata Khofifah saat meresmikan OPOP Training Center.
Khofifah menjelaskan, pesantren sebenarnya sudah mempunyai produk-produk unggulan, khusus komoditas pertanian dan handicraft. Bahkan, beberapa pesantren telah mengembangkan animasi, film, serta produk digital IT lainnya. Hanya, pesantren-pesantren tersebut masih butuh pendampingan. Pendampingan diperlukan agar quality control produknya tetap terjaga dengan baik, quantity produknya mencukupi, dan continuity produknya bisa terjaga. “Sehingga ketika ada permintaan dalam jumlah besar, pesantren-pesantren ini telah siap,” Khofifah menegaskan.

Melalui OPOP Training Center, demikian direncanakan, produk antar-pesantren yang memiliki kemiripan akan digabungkan agar mampu memenuhi permintaan pasar. Produk-produk pesantren tersebut, kata dia, berpotensi masuk ke wilayah market place yang ada, seperti Bukalapak maupun Alibaba.
“Tentunya jika kualitas dan kuantitas produknya bisa memenuhi standar. Cuma, banyak mereka yang tidak mendapatkan pendampingan yang komprehensif. Mulai desain produknya, kualitas produknya, jejaring marketnya. Inilah pentingnya OPOP Training Center,” kata Khofifah.
