JDS Gelar Workshop Penulisan Kreatif di Pesantren Minggir

jejaring duniasantri (JDS) menggelar workshop penulisan kreatif di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Yogyakarta, Kamis (9/7/2026). Workshop dalan rangkaian Festival Dunia Santri 2026 ini diikuti kalangan santri, mahasiswa, guru, pegiat literasi, dan komunitas kepenulisan Yogyakarta.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, Dr KH Aguk Irawan, Dr Imam Nawawi, dan Beni Satria Sastria. Workshop dibuka Pengasuh Pesantren Minggir, KH Ahmad Muwafiq.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Para narasumber membahas kepenulisan dari berbagai perspektif, mulai dari sastra, tradisi intelektual pesantren, hingga penguatan literasi dalam kehidupan kebangsaan.

Mewakili JDS, Fahri Gunawan dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar membangun budaya literasi di lingkungan pesantren, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat luas.

“Sering kali kita mengira bahwa perjuangan hanya terjadi di medan yang terlihat. Padahal, sejarah membuktikan bahwa banyak perubahan besar justru lahir dari ujung pena. Sebelum gagasan menggerakkan manusia, ia lebih dahulu dituliskan. Sebelum pemikiran menjadi gerakan, ia lebih dahulu menjadi kalimat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tradisi menulis sejatinya bukan hal baru bagi pesantren. Selama berabad-abad, pesantren telah melahirkan ribuan kitab, manuskrip, syarah, nazam, hingga berbagai karya keilmuan yang menjadi bagian dari khazanah peradaban Islam.

“Melalui workshop ini kami berharap peserta tidak hanya mempelajari teknik menulis, tetapi juga belajar memandang dunia dengan lebih peka, jujur, dan bijaksana. Tulisan yang baik lahir bukan hanya dari kecakapan merangkai kata, tetapi juga dari keluasan membaca, kedalaman berpikir, dan keikhlasan berbagi ilmu,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Minggir, KH Ahmad Muwafiq, dalam arahannya menegaskan bahwa santri harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren. Menurutnya, Internet telah menjadi ruang penyimpanan data, sejarah, dan ilmu pengetahuan yang harus diisi dengan karya-karya yang bermanfaat.

“Santri tidak boleh membiarkan mata rantai keilmuan terputus hanya karena dimanjakan oleh perkembangan teknologi. Teruslah menulis dan merawat budaya literasi agar santri turut mengambil peran dalam membangun peradaban,” pesan Gus Muwafiq.

Dalam sesi materi, KH Aguk Irawan mengajak peserta melihat kembali tradisi kepenulisan yang telah lama tumbuh di lingkungan pesantren. Menurutnya, pesantren sejak dahulu tidak hanya melahirkan ulama yang ahli membaca kitab, tetapi juga para ulama yang meninggalkan karya-karya tulis sebagai warisan ilmu.

Ia menegaskan bahwa menulis merupakan bagian dari menjaga kesinambungan sanad keilmuan. Menurutnya, ilmu yang tidak didokumentasikan berisiko hilang bersama berjalannya waktu, sedangkan tulisan mampu melampaui usia penulisnya dan terus memberi manfaat kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, Dr Imam Nawawi menyoroti pentingnya literasi pada era digital. Ia menjelaskan bahwa literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan mengolah pengetahuan menjadi solusi bagi persoalan masyarakat.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah melahirkan ruang kompetisi gagasan yang sangat terbuka. Karena itu, santri dan generasi muda perlu mengambil peran sebagai produsen pengetahuan, bukan hanya menjadi konsumen informasi. Teknologi, lanjutnya, seharusnya menjadi sarana memperluas penyebaran nilai-nilai Pancasila, wawasan kebangsaan, dan khazanah keislaman.

Selain penyampaian materi, workshop berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab antara narasumber dan peserta. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan mengenai teknik kepenulisan, pengembangan ide, penerbitan buku, hingga strategi memanfaatkan media digital sebagai ruang dakwah dan literasi.

Melalui kegiatan ini, JDS berharap budaya menulis semakin tumbuh di kalangan santri dan masyarakat. Tradisi literasi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan pesantren diharapkan terus berlanjut dalam berbagai bentuk, baik melalui buku, artikel, jurnal, maupun media digital, sehingga nilai-nilai keilmuan dan kebangsaan tetap terjaga serta mampu menjawab tantangan zaman.

Tinggalkan Balasan