Jejak Kemah Sastra 2024 di Banyuwangi

Angin melaju pelan
Naik menuju pencak pulau merah
Pasir berdersik di kaki-kaki pencari riak gelombang
Gaduhnya dirindu para pemalu

Payung-payung pantai dan kursi
Diam bisu menjadi sajak sajak penakhluk decak

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pantai Pulau Merah, 25 Oktober 2024.

AKU
Oleh: Anton Narasoma

seperti ombak di muara laut, aku menjejak waktu
sebab semangat tak hanya kata-kata, karena itu tetap bergelora bagai api

aku adalah ujung panah yang memburu masa ketika angka-angka almanak berhamburan dalam proses kehidupan

maka,
kukejar sisa perjalanan yang masih menempuh jarak dari waktu ke waktu

sebab,
masih kusimpan cita-cita masa lalu yang mengering dalam kajian langkah setelah kulewati dari tahun-tahun sebelum ini

maka,
haruskah api yang bergemuruh di dada ini membakar potongan kegelisahan tatkala
asap hitam itu membumbung di hadapan perjalanan ini?

Palembang, 26 Oktober 2024.

MENYAMBUT SYAL GURUKU
Oleh: Lies Noor

Surya tenggelam dilaju kereta
Saat mata seekor iguana betina nanar menatap riak dan gerai, entah apa…

Aku tengadah
Telingaku kian goyah
Bunyi gamelan dan tetabuhan membius, menusuk,

Aku takluk!
Malam tanpa bulan berselimut gandrung samar-samar

Kau tahu?
Bayangan di atas aspal yang kesepian
Bergumam saat riuh kendaraan berlarian, melompat, lalu menghilang
Memekak lalu tenggelam

2 Replies to “Jejak Kemah Sastra 2024 di Banyuwangi”

Tinggalkan Balasan