
Kisah Pondok Darul Ulum
Satu lagi yang khas dari pondok yang jarak tempuhnya dari Kota Padangsidimpuan kurang lebih 1,5 jam tersebut adalah panggilan ayah atau ayak kepada pengajar terutama yang sudah senior. Selain itu, yang juga khas adalah bahwa santriwan selama menimba ilmu mondok di sopo seluas 2 x 3 meter. Para santriwan wajib masak sendiri, belanja sendiri, dan berbenah pondok sendiri.

“Mereka memang sudah diajari mandiri sejak dini. Tidak ada yang boleh bermanja-manja selama menjadi santri. Pemandangan itu masih terlihat sampai tahun ajaran 2005/2006,” kata Elisa Fitriani Pulungan yang akrab dipanggil Fitri.
Sedangkan, santriwati berkegiatan pribadi di asrama yang sudah disediakan oleh pengelola. “Tapi ketika itu (2005) masih sangat sederhana. Saya dan santriwati tidur berlapiskan tikar pandan di lantai dua salah satu gedung pesantren. Lantai satunya adalah dapur. Di dapur itu tersusun kompor-kompor alat memasak para santriwati. Ada yang satu kompor untuk satu santriwati dan ada yang dipakai untuk dua atau tiga orang santri,” tambah Fitri.
“Memang, ada santri yang lebih nyaman mempersiapkan apa-apa sendiri sedangkan yang lain dapat berbagi dengan dua atau tiga orang yang lain,” imbuhnya.
Santri dan Masyarakatnya
