Pengalaman yang paling berkesan bagi Elisa Fitriani Pulungan, mantan pengajar Ponpes Nabundong lama, adalah ritual “martammat” pada tahun 2005. Martammat berakar pada kata tammat atau tamat yang berarti lulus. Akan tetapi, martammat bukan sekadar wisuda.
“Pada hari mengajar, seperti biasa, saya bergegas dengan menumpang mobil sewa Elf dari Padangsidimpuan menuju Nabundong,” Fitri bercerita. “Sesampai di lokasi, saya kaget karena ternyata sedang ada keramaian. Saya lihat ada beberapa kuali besar berisi daging kerbau dan beberapa kuali berisi sayur nangka muda. Itu khas horja atau pesta adat Tapsel,” Fitri menambahkan.

Pada hari akhir pembelajaran atau yang di pesantren lain disebut akhirussanah, Pondok Pesantren Nabundong selalu mengadakan acara martammat. Uniknya adalah bahwa acara tersebut dilakukan secara adat.
Sebelumnya, pada malam harinya dilaksanakan kegiatan yang menampilkan atraksi kesenian yang menjadi minat dan bakat para santri. Tidak kurang dari nasyid, syair, lagu, rebana, dan shalawat dzikir khas Angkola kreasi santri dan masyarakt sekitar ditampilkan.
Pada inti acara martammat, paling tidak hingga tahun 2005, dihadiri oleh segenap perangkat adat, pemuka masyarakat, harajaon, hatobangon Nabundong dan sekitarnya diundang untuk hadir. Seekor kerbau, yang merupakan hewan adat masyarakat Batak Angkola, disembelih dan dimasak oleh santri dan pada gilirannya akan dimakan bersama-sama. Kelulusan para santri tidak hanya dilepas oleh pimpinan pesantren, namun juga oleh masyarakat adat setempat. Nabundong adalah pesantren dan pesantren adalah Nabundong. Sebuah identitas budaya yang terbentuk berkat dialog yang terjadi tersu-menerus di antara pesantren dan masyarakatnya hingga saat itu.
Saat ini, Pesantren warisan Syekh Ahmad Daud Siregar tersebut terbelah menjadi dua; Pondok Lama Darul Ulum dan Pondok Baru Syekh Ahmad Daud An Naqsabandi. Ada perunahan besar yang terjadi pada pondok lama. Sopo pondokan sudah tidak ada lagi. Santriwan sekarang tinggal di asrama seperti halnya santriwati.
Pada kesempatan berikutnya, kita akan membahas Pondok Baru yang nampaknya lebih condong untuk mempertahankan metode lama yang diwariskan Tuan Nabundong.
