Apa yang ditulis oleh nonis ini kemudian direspons secara jenaka (bukan amarah) oleh umat muslim.
Ada yang mengatakan, “tolong bersaing secara sehat ya nonis. Berburu takjil itu jam lima sore. Kalau jam tiga sore, kita yang islam lagi bertahan hidup”.

Bahkan ada juga yang menulis begini, “selain setan yang dikurung, tolong nonis juga dikurung. Setidaknya dari jam tiga sampai magrib agar takjil kami aman”.
Respons umat muslim ini telah menandakan kadar kedewasaan dalam beragama. Dikatakan dewasa karena umat muslim sebenarnya bisa saja memilih respon secara emosional dengan kata atau kalimat yang penuh kebencian. Atau ungkapan yang menunjukkan identitas diri sebagai kelompok mayoritas. Tapi ini malah memberikan reaksi dengan kalimat yang tidak kalah jenakanya.
Sungguh, saling bersahutan dalam bingkai pergaulan yang penuh canda tawa pada akhirnya membuat kita sadar bahwa manusia selalu memiliki rasa humor dalam hidupnya. Dan humor inilah yang bisa mengikat rasa kebersatuan kita sebagai manusia. Karena dengan humor, keakraban mudah tercipta dan kecurigaan bisa terkikis.
Cuplikan komentar yang saling bersahutan ini menandakan satu hal penting bahwa salah satu tahapan kedewasaan dalam beragama adalah kemampuan menjalin hubungan sosial dengan yang berbeda keyakinan dalam bingkai canda tawa.
Hubungan antarumat beragama yang penuh dengan kecurigaan, kebencian, dan permusuhan adalah tanda belum dewasa dalam beragama. Mereka yang sudah dewasa secara teologis adalah mereka yang selesai dengan urusan aqidahnya. Dengan begitu, dia tidak akan mudah tersinggung dan sakit hati oleh perilaku umat agama lain. Termasuk oleh banyaknya nonis yang memborong takjil di bulan ramadan tahun ini.

Hhh MasyaAllah Alhamdulillah salah satu fenomena ramadan tahun ini ada yang mengabadikan, sungguh begitu indah perbedaan jikalau dilandasi perdamaian dan terus menjunjung tinggi persatuan.🤝🏻👍🏻