Jerat-Jerat Muslihat

“Bagaimana Pak? Boleh kan?” Melani semakin mendesak.

“Iya, silakan,” jawabku akhirnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kami lantas berjalan bersama. Letak tempat ibadah itu berada tidak begitu jauh dari rumah kontrakanku, hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit jalan kaki. Aku tinggal di sebuah rumah bantuan Jepang milik salah seorang warga di kampung tempatku bertugas.

Melani belajar mengetik cerpennya, sedangkan beberapa anak yang lain belajar dasar-dasar videografi untuk pembuatan film pendek. Sebentar-sebentar aku menengok HP untuk melihat jam. Keberadaan anak-anak gadis itu di rumah kontrakanku membuat perasaanku tidak tenang. Aku merasa serba salah, mengajari mereka di sekolah saja tidak cukup, tapi mengajari gadis-gadis itu di sini sangat berisiko.

“Lima belas menit lagi sudah jam sembilan, belajarnya siap apa belum?” tanyaku, ingin memastikan mereka akan segera pulang. Gadis-gadis itu mengangguk pertanda akan segera pulang.

Akan-anak itu memegang janjinya. Mereka pulang jam sembilan tepat. Tubuhku terasa capai sekali. Kurebahkan badanku di atas tikar pandan. Laporan SM3T yang masih belum selesai kubiarkan terbengkalai di laptop. Tinggal sendirian di rumah kontrakan tak jarang membuatku merasa kesepian. Seperti juga malam ini. Walaupun merasa ngantuk tapi mataku tak kunjung mau tidur. Di atap kamar ada dua ekor cicak yang sedang berkejar-kejaran. Rupanya si jantan sedang berahi. Sedang si betina terus berlari menjauhi. Tiba-tiba di pojok kamar ada cicak yang sedang makan laron. Si betina tadi langsung lari ke sana. Aku tertawa melihat adegan itu. Namun tawaku tidak bertahan lama karena detik berikutnya tiba-tiba lantai bergetar hebat. Suara kaca berkeluntingan karena digoyang gempa. Aku bangkit berdiri. Gempa memang sering sekali terjadi di pulau ini. Aku lantas berjalan ke luar rumah. Tidak lama kemudian gempa berhenti. Kulihat beberapa tetanggaku juga berlari keluar rumah.

Beberapa hari kemudian Melani datang ke rumah malam-malam bersama ayahnya. Dengan berat hati aku menerima kehadiran mereka. Melani belajar ngetik di laptopku. Dia mengkonsultasikan perubahan alur cerita sekaligus menuangkannya dalam bentuk kalimat. Latihan ini memang mendesak karena pelaksanaan lomba tinggal beberapa hari lagi. Kami berdua serius melototi laptop, sedangkan Pak Kepala Sekolah berada di luar rumah mencari angin. Aku merasa ngantuk sekali karena tadi seharian mengerjakan laporan. Dan perjalanan waktu terasa seolah terseok-seok.

Samar-samar kudengar suara orang berbicara, mungkin di jalan depan rumah. Kutengok Pak Kepala Sekolah tidak ada di depan. Sementara suara-suara itu semakin lama semakin kencang dan gaduh. Terdengar ada banyak orang yang terlibat dalam pembicaraan itu. Dan suara gaduh itu semakin mendekati rumah. Suara-suara kasar kemudian meneriakiku. Aku segera terkejut. Ternyata mereka adalah para pemuda kampung yang tidak terima melihatku menerima tamu seorang gadis. Mereka menuduhku sedang berzina dengan Melani muridku itu. Aku melawan tuduhan itu sebisaku. Dadaku seolah bergemuruh karena amarah melihat ternyata Pak Kepala Sekolah tak mau mengakui telah mengantarkan anaknya. Padahal tadi dia ikut masuk ke rumahku. Entah ada muslihat apa.

Aku digelandang ke kantor desa. Teman SM3T-ku dari desa lain yang mendengar berita ini ikut berdatangan. Sementara itu teriakan-teriakan sarkas terus berdengung di gendang telingaku.

“Adili guru bejat itu!” teriak seseorang.

“Dasar orang Jawa tak tahu diri!”

“Nikahkan mereka!”

Tubuhku sudah lemas. Beberapa orang telah memukulku. Bibirku terasa perih.

“Tolong tenang dulu bapak-bapak!” Darsa teman SM3T-ku tiba-tiba berteriak di tengah keriuhan. “Pak Keuchik harus adil dalam mengambil keputusan!” Darsa semakin lantang.

Ternyata suara Darsa didengar Pak Keuchik. Orang nomor satu di desa Borengan itu lantas memberiku kesempatan mengajukan pembelaan.

Aku lantas bicara, “Melani, di mana dia? Tanyakan padanya apakah aku berbuat sesuatu padanya!”

“Kalau dia masih punya nurani dia akan mengatakan bahwa bapaknya sendiri-lah yang ikut menemani belajar di rumahku! Kami tidak berduaan,” lanjutku dengan suara lirih.

Beberapa saat kemudian Melani didatangkan. Semua mata tertuju pada gadis yang berumur enam belas tahun itu. Kupertajam pendengaranku untuk memastikan bahwa anak yang kukenal sebagai gadis baik-baik itu tidak bersilat lidah. Kutelan ludah berkali-kali sambil menunggu mulutnya bersuara. Jawabannya kutunggu dengan cemas.

“Tidak benar bapakku ikut ke rumah Pak Bekti. Dia mengajakku ke rumahnya seusai ngaji di meunasah siap isyak tadi. Pak Bekti bermaksud jahat padaku.”

Bagai disambar petir telingaku mendengar ucapan Melani gadis Simeulue itu. Ternyata di balik sifat baiknya selama ini menyimpan muslihat yang sahat jahat.

Tinggalkan Balasan