“Nikahi!”
“Nikahi!”

Teriakan-teriakan itu semakin bergemuruh memenuhi ruangan kantor desa. Cerita-cerita miring tentang lelaki yang harus menikahi gadisnya jika ketahuan ber-khalwat itu ternyata terjadi juga padaku. Dulu ketika pertama kali mendengar cerita itu kuanggap sebagai dongeng pengantar tidur belaka. Muslihat ini benar-benar jahat. Padahal perantauanku ke sini untuk mencari modal nikah. Apa kata tunanganku jika aku tidak bisa pulang karena harus menikahi muridku sendiri? Kesedihan seperti apa untuk menggambarkan duka ibuku jika aku tidak bisa pulang karena tersandung kasus di tanah yang sangat jauh begini? Tangis sedih tiba-tiba meretas di kedalaman hatiku.
“Tunggu!” tiba-tiba ada teriakan seseorang di balik kerumunan. Suasana tenang dalam sekejap. Semua mata menelisik siapakah gerangan yang berani menghentikan dakwaan ini?
Seseorang berjalan tenang menyibak kerumunan.
“Aku adalah saksi dari kasus ini,” ucapnya tenang. Pak Karsit tetangga sebelahku itu datang dengan langkah gagah.
“Apa yang kau lihat Pak Karsit?” tanya Pak Keuchik.
“Pak Kep mengantar putrinya ke rumah Pak Bekti. Dia kemudian keluar menghubungi seseorang. Kemudian para pemuda itu datang beramai-ramai. Pak Bekti terperangkap muslihat Pak Kep dan putrinya.”
“Jangan memfitnah Pak Karsit!” sergah Pak Keuchik.
“Tentu saja tidak. Aku sedang ngopi di rumah Pak Fanon tadi. Kalian bisa mengecek kebenaran ucapanku pada Pak Fanon dan istrinya!” Pak Karsit berbicara dengan percaya diri.
Kedudukan berbalik. Setelah Pak Fanon juga ditanya barulah semua tersadar. Sedang ada muslihat yang sedang memainkan perangkap. Sekarang pertanyaan Pak keuchik berbalik pada Pak Kepala Sekolah. Lelaki setengah baya itu menjawab lirih dengan wajah tertunduk.
“Aku terpaksa melakukannya. Saya takut kehilangan Pak Bekti yang sangat penting artinya di sekolah kami. Saya juga berharap kelak dia akan terus mengajar ngaji di meunasah serta mendidik anak saya menjadi orang yang mengerti agama jika dia menikahi Melani dan tetap tinggal di pulau ini.”
Pak Kepala Sekolah semakin tertunduk. Dan kulihat air matanya telah meleleh di pipinya.
Aku tersenyum seorang diri mengenang kejadian itu.
* * *
Mentaraman, 3 Mei 2020
SM3T: Sarjana Mengajar di daerah Terpencil, Tertinggal, dan Terdepan
Meunasah: Masjid/musolla
Keuchik: Kepala Desa
