Kedatanganku sebagai guru SM3T di bumi Serambi Makkah kala itu memberi banyak sekali pengalaman berharga. Bahkan sampai sekarang aku masih sering teringat setahun kehidupanku di Pulau Simeulue – Aceh sekitar tahun 2015 itu. Semua kejadian terasa indah dalam ingatan. Bahkan kenangan pahit pun kini terasa manis saat dikenang. Saat-saat bersama murid di sekolah atau ketika mengajar ngaji anak-anak di masjid adalah pengalaman yang memberi banyak warna dalam hidupku di sana.
Suara anak-anak kecil yang terbata-bata membaca Quran berbaur dengan deburan suara ombak di pantai. Geletar suara dedaunan kelapa juga ikut bertingkah ketika ditiup angin. Dan suasana Meunasah itu selalu ramai setiap kali malam datang. Anak-anak kecil hingga remaja berduyun-duyun untuk belajar mengaji. Penduduk Pulau Simeulue memang semuanya beragama Islam. Akan tetapi ada juga tempat pelosok di salah satu wilayah Aceh ini yang masih kekurangan guru ngaji. Beberapa tahun sebelumnya meunasah ini pernah dipakai ngaji tapi kemudian berhenti karena ustadznya telah tiada. Meunasah ini baru dipakai ngaji lagi ketika kami datang.

Kenangan-kenangan ketika tinggal di pulau indah itu datang silih berganti.
“Pak Bekti pulang kapan?” tanya Kepala Sekolah siang itu. Jemariku yang sedang sibuk mengetik laporan SM3T segera terhenti. Laporan ini harus kubuat sebagai pertanggungjawabanku pada kampus yang memberangkatkanku datang kemari.
“Sepuluh hari lagi insyaallah Pak,” aku menjawab sambil mengetik.
“Sekolah kita baru saja dapat surat dari Diknas Kabupaten Simeulue. Minggu depan ada lomba menulis cerpen di Sinabang. Bapak jadi pembimbingnya ya?” pintanya memelas.
“Apa Pak?” aku terlambat memahami keadaan. Seketika itu aku menghentikan gerak jemariku. Menoleh ke arah lelaki paro baya itu.
“Pak Bekti jadi pembimbing peserta lomba cerpen ya?”
“Cerpen? Minggu depan?” tanyaku beruntun.
“Iya Pak. Bisa kan? Bapak yang dari kota pasti punya banyak pengalaman. Kalau yang melatih pinter barangkali nanti anak-anak bisa mengalahkan SMK Sinabang. Sekolah kita yang baru berdiri ini tidak akan diremehkan lagi jika kita mampu bersaing dengan mereka,” lelaki itu mengakhiri ucapannya dengan senyum penuh harap.
“Maaf Pak. Sebenarnya saya mau saja. Tapi kan masih ada guru yang lain dan laporan saya juga masih banyak yang belum selesai,” aku menjawab dengan berat hati.
“Guru yang lain juga ada tugas lain Pak. Bapak kan tahu sendiri di sini masih kekurangan guru,” ucapannya semakin memelas.
“Tapi Pak…” elakku, merasa keberatan karena tugasku masih banyak dan memang sesuai jadwal sebenarnya saat ini waktunya untuk menyusun laporan saja.
“Bukankah laporanmu itu akan sia-sia jika tidak mendapat tanda tanganku?” gertaknya kemudian. Jawaban itu begitu mengejutkan. Nyaliku langsung menciut.
“Iya Pak, akan saya bantu,” aku akhirnya menyanggupi tugas itu.
“Siswa yang ikut lomba cerpen adalah Melani. Silakan dilatih dengan baik ya,” pintanya lagi.
Melani adalah putri kepala sekolahku yang juga sekolah di sini. Sebenarnya masih ada siswa lain yang menurutku lebih berbakat dalam hal menulis. Tapi keputusan Pak Kepala Sekolah ini tak perlu kutentang. Melawan keputusannya bisa mempersulit keadaanku. Apalagi Melani memang anak yang rajin. Sayangnya dia masih belum bisa mengetik. Melani tidak tahu cara menghapus bahkan enter.
* * *
“Nanti belajar di rumah Pak Bekti boleh?” tanya Melani seusai ngaji di meunasah.
Langkah kakiku terhenti. Kulihat di belakang Melani ada Meurika dan beberapa orang gadis. Dan pertanyaannya belum juga kujawab. Rencanaku malam ini akan merampungkan laporan SM3T. Di sisi lain mereka memang masih butuh banyak belajar, mengingat hal itu membuatku bingung aku harus menjawab apa.
