Di sisi lain, yang paling masyhur adalah cerita Kiai Abbas Buntet Cirebon. Dikisahkan sebelum berjuang, ia memerintahkan semua santri dan masyarakat sipil untuk mengambil air wudhu dan meminum air yang telah diberi doa. Setelah itu, Kiai Abbas dan para kiai lainnya memantau jalannya pertempuran. Beliau kemudian berdiri tegak di halaman masjid sambil berdoa. Tak dinyana, Kiai Abbas menengadahkan kedua tangannya ke langit, dan keajaiban pun terjadi. Talu (penumbuk padi) dari rumah warga berhamburan menerjang serdadu Belanda. Tidak hanya itu, ketika pihak Sekutu mengirimkan pesawat bomber Hercules, berkat doa dan sibakan sorban beliau, pesawat tersebut tiba-tiba meledak di udara sebelum beraksi.
Peristiwa bersejarah tersebut menunjukkan bahwa pada akhirnya kaum sarungan tidak hanya paham persoalan keagamaan, akan tetapi juga telah terbukti mampu berperan aktif dan solutif terhadap masalah kenegaraan. Inilah yang akhirnya menjadi tonggak nasionalisme Indonesia yang seharusnya menginspirasi anak bangsa untuk bertempur hingga Indonesia menjadi merdeka seutuhnya.

Menilik latar historis tersebut, maka perayaan hari santri tidak boleh hambar dan nihil dari nilai. Dosa besar rasanya jika berhenti pada taraf memeriahkan saja, kemudian abai terhadap penjajahan yang membelunggu hinga kini. Padahal dewasa ini, penjajahan era digital, hingga persoalan melepaskan belenggu bayang-bayang politik identitas 2024 masih hinggap di bumi Nusantara. Masih diperlukan peran strategis dari para santri dalam ikut mengatasi persoalan bangsa saat ini.
Pertama, persoalan era digital. Para santri harus berjihad untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya kedaulatan digital. Penyadaran literasi digital berguna supaya masyakarat tidak terjebak dan diperbudak hingga pemujaan terhadap dunia digital yang akhirnya bertindak “konyol” karena berorientasi materialistik. Disisi lain, para santri harus turun gunung melakukan diseminasi ke berbagai media online guna menciptakan kontentasi komodifikasi konten-konten yang sehat dan berkualitas melawan kedangkalan pemahaman terhadap agama, melawan ujaran kebencian, hoaks, caci maki, dan hal-hal negatif yang berseliweran di media online.
Kedua, persoalan politik identitas. Para santri juga harus speak up tentang politisasi identitas. Berkaca dari preseden politik identitas terdahulu yang sudah mengkristal dilekatkan pada sentimen agama, kaum santri yang telah mendapat pendidikan keagamaan secara komprehensif harus memaklumatkan diri dan memainkan peran dalam mengamputasi politik identitas. Masyarakat (umum maupun digital) harus diberikan edukasi bahayanya dari politik identitas yang bisa mengakibatkan polarisasi di masyarakat. Di samping itu ihwal pemilu, indikator rekam jejak semua kontestan pemilu harus jelas dan wajib tidak bertentangan dengan tatanan negara yang sudah lama berjalan (the old established system). Dengan pemetaan tersebut nantinya bisa diketahui kontestan yang indikatif kontrademokrasi atau tidak sejalan dengan spirit resolusi jihad.
Itulah hemat penulis tentang kontribusi yang bisa dilakukan santri masa kini dalam jihad kebangsaan. Semoga menjadi refleksi kita bersama untuk bertransformasi diri menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat bagi sesama dengan meneladan keotentikan perjuangan para kiai dan santri terdahulu. Wallahu’alam.
