Hal tersebut menunjukan bahwa setiap problem-problem sosial keagamaan yang muncul di era kontemporer tetap bisa di jawab oleh Al-Qur’an dengan cara melakukan kontekstualisasi interpretasi secara terus menerus, seiring dengan tuntutan problem kontemporer (Abdullah Lewo, 2023).
Pemaknaan Al-Qur’an dengan bahasanya yang sulit dan multimakna, salah satunya dapat kita lihat pada tema muhalliq yang terbingkai dalam Qs. Al-Fath ayat 27

مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِين لَا تَخَافُونَ…..
Artinya: “…Mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut…”
Ayat tersebut menjelaskan mengenai teknis pelaksanaan tahallul (memotong rambut) yang dilaksanakan setelah sa’i dalam rangkaian ibadah haji atau umrah.
Jika dimaknai secara dhahiriyyah, maka dimaknai memotong kepala karena redaksi Al-Qur’an pada ayat tersebut memakai lafaz “ru’usakum” yang dalam Bahasa Arab memiliki makna utama atau yang biasanya digunakan adalah kepala. Maka, tahallul secara dhahiriyyah dimaknai memotong kepala, bukan memotong rambut.
Oleh sebab itu, adanya penafsiran sangat penting dalam memahami Al-Qur’an yang juga berisi syariat dalam Islam. Keberadaan penafsiran akan menjadi sangat sentral dalam keilmuan pemahaman Al-Qur’an kendatipun akhirnya banyak yang memposisikan penafsiran dan Al-Qur’an di tingkatan yang sama.
Selain itu, ada contoh penafsiran yang beragam dari ayat tersebut. Praktik tahallul di masyarakat pun berbeda-beda. Ada yang hanya menggunting beberapa helai rambut, ada pula yang mencukur gundul rambut.
