Dwi Winarno, seorang dosen, pengamat sosial, lebih memilih membaca simbol ketimbang menyensor meme. Baginya, pengibaran bendera Jolly Roger bukanlah makar, tapi makar-makar halus dari mereka yang lelah mendengar janji-janji pembangunan tapi tetap tidur di kontrakan sempit ber-AC bocor.
Dengan hal tersebut, semuanya paham bahwa simbol bukan sekedar gambar, melainkan adalah bahasa. Seperti serban putih yang melambangkan ilmu, atau peci hitam yang disematkan penuh harap saat wisuda madrasah diniyah. Maka, jika ada generasi yang memilih bendera bajak laut sebagai bentuk perlawanan, semua seakan termenung. Karena terkadang simbol fiksi lebih mudah menyentuh hati daripada bahasa formal kenegaraan yang dingin dan kaku.

Dalam pesantren, para santri tumbuh dengan kisah para wali yang memperjuangkan agama bukan dengan senjata, tapi dengan akhlak dan simbol yang dapat diterima masyarakat. Sunan Kalijaga, contohnya, tidak mengharamkan wayang, namun justru memanfaatkannya. Karena dengan tidak menolak budaya, mereka akan mempergunakannya lalu menyuntikkan makna baru.
Maka hari ini, ketika budaya pop digunakan anak muda untuk menyuarakan kegelisahan. Bukankah itu bagian dari strategi dakwah zaman yang menggunakan bahasa yang mereka pahami atau pop culture. Inisama seperti menyampaikan keluh kesah lewat bait syair Arab, atau tembang duka di malam tirakat.
Apa yang Membuat Luffy wa akhwatuha dijadikan cerminan? Jawabannya sederhana: mereka punya prinsip, tidak khianat, tidak korupsi, tidak membiarkan temannya mati sendirian, dan tidak pernah meninggalkan siapa pun hanya karena status sosial atau nilai akademik. Mereka menyambut siapa saja yang punya keberanian untuk bermimpi, walau orang itu hanya tukang masak atau manusia rusa. Mereka menolak tunduk pada kekuasaan yang menindas, namun tetap memegang janji dan persaudaraan.
Dalam dunia nyata, hampir semuanya hanya bisa mengeluh soal korupsi, ketidakadilan, dan kesenjangan sosial. Namun, apakah semuanya ikut menegakkan keadilan ketika kesempatan itu datang di hadapan? Entahlah.
Dalam dunia One Piece, belum pernah Luffy wa akhwatuha diceritakan nyantri di Tebuireng atau bahkan Lirboyo versi Grand Line. Akan tetapi, mereka secara tidak sadar tetap menjalankan prinsip menolong yang terzalimi, melawan tirani, dan tidak menjual harga diri demi kenyamanan pribadi.

Super mantap, selamat dan sukses,,,