Jika Luffy Seorang Santri…

Kalau Luffy adalah seorang santri, mungkin ia akan jadi ketua kamar yang tegas tapi adil. Dia tidak akan membiarkan santri baru di-bully, tidak akan menukar jatah makan malam temannya demi tambahan kuah sayur, dan akan rela mengambil hukuman bersama-sama jika itu berarti melindungi orang yang tidak bersalah.

Selain itu, pondok pesantren selalu mengajarkan bahwa keberanian sejati bukan sekadar mengangkat senjata, tapi berani berkata benar meski pahit. Luffy pun demikian, ia tidak pernah berpikir dua kali untuk melawan kezaliman, meski itu berarti harus kehilangan nyawanya. Dia tidak punya teori filsafat demokrasi, tapi tindakannya seringkali lebih demokratis daripada sidang parlemen.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mungkin, jika negara ini bisa mencontoh semangat itu, kita tidak perlu lagi khawatir soal pengibaran bendera. Merah Putih akan berkibar dengan sukarela, bukan karena jadwal upacara. Tidak akan ada lagi istilah “krisis nasionalisme” setiap kali anak muda mengidolakan sesuatu di luar negeri, karena nasionalisme bukan sekadar hafal teks proklamasi, tapi hidup dengan martabat, saling menghormati, dan menolak kezaliman.

Santri pondok pesantren tahu bahwa mengajak kebaikan bukan lewat ceramah panjang-panjang, tapi lewat teladan hidup. Luffy tidak pernah memberi ceramah, tapi tindakannya membuat orang yang ditemuinya terinspirasi untuk berubah.

Tentu, ada yang bilang: “Itu cuma anime, tidak bisa disamakan dengan dunia nyata.” Tapi bukankah sejarah kita juga penuh dengan kisah yang menginspirasi layaknya fiksi? Kisah santri melawan penjajah, kisah pahlawan menolak tunduk pada kekuasaan yang zalim, semua itu sama-sama berangkat dari satu hal, yaitu keberanian.

Jadi, ketika hari-hari di bulan Agustus kita melihat bendera Jolly Roger berkibar di sebelah Merah Putih, jangan buru-buru marah. Mungkin itu bukan tanda anak muda kehilangan nasionalisme, tapi sinyal bahwa mereka merindukan kepemimpinan yang jujur, setia, dan berani seperti kru Topi Jerami.

Lihatlah itu sebagai pertanyaan terbuka, masihkah kita merasa merdeka? Bukan hanya secara politis, tapi juga secara batin. Merdeka untuk berkata benar tanpa takut diintimidasi. Merdeka untuk membantu sesama tanpa harus memikirkan keuntungan pribadi. Merdeka untuk memegang teguh prinsip meski dunia berkata sebaliknya.

One Reply to “Jika Luffy Seorang Santri…”

Tinggalkan Balasan