Tidaklah mengherankan, apabila masih banyak terutama umat Islam yang tertarik serta dapat dengan mudah dipengaruhi lalu kemudian direkrut menjadi anggota atau bagian dari kelompoknya. Bahkan, seseorang dengan penuh percaya diri melakukan aksi bom bunuh diri dikarenakan iming-iming surga tersebut. Hal ini dan tentu saja disebabkan karena minimnya pengetahuan dan pemahaman mereka akan Islam.
Akibatnya, mereka memahami ajaran Islam secara serampangan, apa adanya, dan sesuai hawa nafsunya sebagaimana pemahamannya tentang jannah, surga. Surga, demikian kelompok teroris dapat ditempuh oleh seseorang hanya melalui jalur jihad; peperangan, dan aksi bom bunuh diri. Seolah-olah, jaminan seseorang bisa masuk surga adalah dengan berperang dan meledakkan dirinya sendiri. Maka jika keduanya dijalankan, sudah pasti mereka masuk surga. Sungguh pemahaman yang sangat jauh dari esensi ajaran Alquran dan Rasulullah.

Saya sepakat dengan pendapat Syekh Ali Jum’ah salah satu ulama terkemuka di Mesir spesialis fikih dan ushul fikih yang bermazhab Syafii menyatakan, “Agama tidak mengajarkan terorisme. Terorisme tidak mungkin lahir dari agama, ia hanya produk dari akal yang tidak sehat, hati yang keras dan jiwa yang sombong.”
Lebih dari itu, bukankah Allah telah menyatakan secara tegas, lugas, dan gamblang di dalam Al-Quran, yaitu;
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَا اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ.
