“Iya juga ya.”
“Boleh, boleh. Saya setuju.”

“Setuju!”
“Setuju!”
“closed!”
Sejak itu, Soema memiliki kesibukan baru: Koordinator Gerakan Jumat Berkah. Soema sebenarnya belum lama berdagang makanan. Baru sekitar tiga bulan terakhir. Sebelumnya, tulang punggung keluarga adalah suaminya, Harun. Namun karena kecerobohan, Harun terpaksa harus kehilangan pekerjaan sebagai buruh harian. Kini ia hanya bisa luntang-lantung. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Soema terpaksa harus pontang-panting cari utangan untuk modal dagang makanan. Selama tiga bulan terakhir, saban pagi Soema sibuk jualan nasi uduk dan kue-kue basah di mulut gang pinggir jalan besar itu. Dagangan Soema selalu sepi pembeli. Akibatnya, usaha dagangnya tak mendatangkan untung, justru malah memperbanyak utang. Itulah yang membuat wajah Soema yang dulu berseri kini selalu sekelabu langit Jakarta.
Sejak menjadi Koordinator Gerakan Jumat Berkah itu, Soema tak lagi membuat makanan untuk dijual di mulut gang. Ia sibuk mengumpulkan uang sedekah dari ibu-ibu anggota grup percakapan. Karena seikhlasnya, tiap orang bisa berbeda-beda jumlah sedekahnya. Ada yang Rp 20 ribu, Rp 25 ribu, atau Rp 50 ribu.
Di pekan pertama gerakan Jumat Berkah mulai bergulir, Soema berhasil mengumpulkan dana sedekah sebesar Rp 930 ribu. Sepanjang hari Kamis itu Soema super sibuk. Setelah selesai mengumpulkan uang sedekah, ia ke pasar untuk belanja bahan-bahan makanan seperti yang ia masak selama tiga bulan terakhir. Total barang belanjaannya seharga sekitar Rp 550 ribu. Menurut perhitungannya, setelah bahan-bahan tersebut diolah dan dimasak menjadi makanan yang siap dijual, harganya akan senilai sekitar Rp 930 ribu juga.
Sehabis dari pasar, sepanjang sore hingga malam hari, Soema sibuk di dapur membuat kue-kue basah seperti jajanan pasar dan nasi uduk. Semua urusan dapur tuntas menjelang tengah malam. Soemah pun tidur pulas malam itu.
Keesokan harinya, setelah anak-anaknya sudah bisa berangkat sekolah, Soema mulai keliling mengendarai sepeda motor. Ia memasang boks di bagian belakang sadel sepeda motornya. Di dalam boks itulah makanan yang akan dibagikan di jalanan disimpan.
Soema akan menghentikan sepeda motornya di persimpangan lampu merah atau di pinggir jalan saat bertemu dengan anak-anak jalanan, entah itu pengamen, pengemis, pengumpul barang-barang bekas, gelandangan, atau orang gila. Kepada mereka, Soema membagi-bagikan makanan yang dibawanya. Dan yang terpenting, mereka yang menerima sedekah makanan itu oleh Seoma selalu difoto dengan HP. Mereka diminta berpose dengan memegang makanan yang diterimanya. Foto-foto itu kemudian diunggah di grup percakapan ibu-ibu disertai catatan: Alhamdulillah, sedekah kita sudah diterima oleh mereka yang berhak.
“Alhamdulillah, gerakan Jumat Berkah kita sudah berjalan,” sahut salah satu anggota grup percakapan, lalu disambung yang lain.
“Wah, Bu Soema keren…”
“Semoga sedekah kita membawa berkah.”
“Semoga rezeki kita bertambah-tambah.”
“Semakin banyak sedekah, rezeki kita akan makin berlimpah.”
“Amin, ya Rab…”
