Dasar tambeng, diam-diam saya indekos bersama teman-teman di rumah warga sekitar sekolahan. Tidak mondok. Eh, setelah berjalan dua bulan, sepulang dari sekolah, betapa kagetnya saya saat melihat Pakde Kiai duduk di ruang tamu, menunggu. Saya langsung bersalaman, mencium tangan, dan duduk di depannya.
Pakde Kiai menatap saya, dengan sorot mata tajam. “Kemasi barang-barangmu, pindak ke pondok sekarang!”

Hanya itu yang diucap, memang, tapi telah membuat kaki gemetar. Detik itu juga, saya diantar menghadap kiai pengasuh pondok dekat sekolah, dan diserahkan. Sejak saat itu, saya menjadi penghuni pondok pesantren. Apakah itu hasil “persekongkolan” antara Pakde Kiai dengan orangtua, entahlah. Sebab, saat saya pulang, orangtua pura-pura tidak tahu menahu. Tapi yang pasti, sejak saat itu saya mulai mengenal dan hidup di tengah-tengah dunia santri. Untuk itu, saya berhatur al-fatihah.
Kadang-kadang, dipaksa itu perlu…
