Kakek Penjual Katapel

“Bahkan dialah yang menyuruh tentara Jepang untuk menembak kakekmu saat menyadap lahang hingga ia jatuh ke tanah, dan mati mengenaskan bersimbah darah persis seperti burung tekukur ketika kena katapelmu,” tambah lelaki itu sambil mengelus kumisnya.

Ia menoleh ke wajah lelaki itu dengan serius seraya mendenguskan napas dendam, darahnya tambah mendidih, spontan ia meninjukan kepalan tangannya ke datar meja.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keesokan harinya, ia langsung membuat katapel pesanan itu yang dibuat dengan ritual khusus di dekat makam kakeknya. Gelegak niat dalam dadanya tidak lain hanya untuk balas dendam kepada orang pengkhianat sebagaimana yang dimaksud pemesan. Niat tulus berbalut dendam itulah yang pada akhirnya membuat dirinya memberikan katapel sakti itu cuma-cuma kepada pemesan. Dirinya tak lagi ingat pada harga yang setara dua ekor sapi. Ia cuma bilang agar si pengkhianat itu cepat dibunuh.

Berselang dua hari dari penyerahan katapel itu, pada suatu pagi buta, warga diributkan dengan meninggalnya Ki Munawir di tengah jalan sepulang salat subuh dari mesjid. Suluh dan lampu senter bagai kunang-kunang mengambang sepanjang jalan, dipegang warga menuju tempat itu. Ia pun turut datang sebagai bentuk dukacita kepada kiai Ki Munawir yang telah mengajarinya mengaji. Setiba di lokasi, ia sangat terkejut saat melihat ada cekung berdarah bekas kerikil yang tepat mengenai pelipis Ki Munawir. Beruntung semua warga mengiranya bekas peluru.

“Laknat, terkutuk tentara Jepang.”

“Iya, jelas ini terkena tembak penjajah keparat itu.”

Ia melihat wajah Ki Munawir dengan tubuh gemetar, jongkok, dan segera ikut menyeka rembesan darah segar itu langsung dengan telapak tangannya. Beberapa kali ia menahan air matanya untuk tak menangis di tempat itu.

“Kiai bukan kena peluru, kalau dilihat dari bekasnya, ini kena katapel,” gumamnya dalam hati, masih merinding, sebab dirinya khawatir katapel buatan dirinyalah yang membuat guru ngajinya itu meninggal. Kekhawatirannya semakin besar pada hari-hari berikutnya karena lelaki pemesan katapel itu tak pernah datang lagi ke rumahnya. Celakanya, ia tidak sempat bertanya alamatnya. Kekhawatiran itu memuncak luka sebulan kemudian ketika terungkap bahwa lelaki berkumis tebal itulah yang membunuh Kiai Munawir. Hanya saja pembunuh itu kemudian menghilang tanpa jejak.

Sedang dirinya sebagai pembuat katapel dan sebagai seorang murid merasakan beragam guncangan dalam batinnya; takut, cemas, dan menyesal. Sejak saat itu ia merasa berdosa kepada Ki Munawir. Berminggu-minggu setelahnya ia sejenak berhenti membuat katapel. Pikirannya kacau. Ada kalanya berteriak-teriak menyebut lelaki pembunuh itu. Untuk melampiaskan kekacauannya ia kadang mengambil katapel buatannya, memberinya kerikil dan melepaskannya ke udara atau kadang ke pohon yang ia anggap lelaki pembunuh itu, hingga tiba suatu malam; ia melihat kucing putih melintas di depan rumahnya dengan langkah gontai, matanya berkedip suram, kadang henti sebentar menoleh ke sekitar, lalu berjalan lagi, ekornya bergerak-gerak pelan.

Entah setan apa yang merasukinya malam itu, seketika kucing itu terlihat seperti lelaki pembunuh yang ia benci. Sontak ia mengambil katapel dan kerikil hitam bulat, kemudian dilepaskan ke arah kucing itu. Kerikil tepat mengenai kepala si kucing. Binatang itu pun terkapar. Sesaat berguling-guling sambil mengeong sekarat sebelum akhirnya mati bercecer darah di pangkal pohon sawo.

Ia bersorak saat melihat sasarannya mati mengenaskan. Lekas ia mendekat untuk memastikan apakah benar-benar mati atau tidak. Setelah mendekat, tiba-tiba ia terkejut, wajahnya berubah muram saat tahu yang baru saja dibunuh ternyata seekor kucing. Ia tak bisa menahan air mata, dengan tangan gemetar kemudian ia ambil kucing itu dan dikubur di balik semak-semak  ketika bulan tanggal tua bersinar temaram.

***

Setelah peristiwa terbunuhnya Ki Munawir dan kucing putih, ia semakin larut dalam hati yang cemas dan dilema; di satu sisi ia berkeinginan kuat untuk berhenti membuat katapel sebagai sesal tebusan terhadap dosa-dosanya, tapi di sisi yang lain ia sadar tak punya pekerjaan lain yang bisa jadi perantara dalam menyambung hidup.

Tinggalkan Balasan