Tak jarang setiap duduk untuk meraut batang katapel, ia harus berhenti; diam lama bagai patung. Larut mengenang dua kematian tragis dari katapel buatannya. Hal itulah yang membuatnya sering mengabaikan beberapa cabang-cabang ranting yang sudah jadi setengah katapel begitu saja, terserak bertebar di beranda rumahnya. Ia memilih tidur, tak peduli banyak pemesan yang datang. Dalam seminggu ia hanya menghasilkan satu buah katapel yang dipaksakan. Hal itu membuat katapel buatannya langka di pasaran dan harganya semakin tinggi. Meski harganya tinggi, pemesan bukan berkurang, malah semakin banyak yang berjubel, hingga beberapa di antara mereka mau membeli satu katapel seharga kambing dewasa.
Seiring membanjirnya pesanan dan harga yang terus naik, justru kecemasannya semakin bertambah. Kini ia selalu merasa arwah binatang yang mati oleh katapelnya bangkit dan berdatangan kepada dirinya; mengancam balik untuk membunuhnya. Ia sering mengurung diri di kamar sambil memangis ketakutan.

“Semakin hari katapel kakek semakin laris dan harganya semakin tinggi, tapi mengapa wajah kakek terlihat kurang semangat dan muram, mestinya ini jadi sumber kekayaan kan, Kek?” ucap salah seorang pemesan suatu pagi.
“Seseorang terhadap orang lain hanya menduga-duga. Jika kaya pasti dikira bahagia, padahal tak ada yang tahu pada keadaan hatinya, bisa saja luarnya kaya tapi dalamnya penuh luka. Seperti aku ini,” jawabnya pelan, sedikit berderai air mata.
Keadaan mendadak senyap. Si pemesan bingung, bibirnya terkatup rapat.
“Aku lebih baik begini.”
Ia memberikan katapel kepada si pemesan lengkap dengan kerikilnya.
“Maksud kakek?”
“Luncurkan kerikil itu ke kepalaku, barulah aku akan bahagia.”
Si pemesan hanya terdiam.
“Ayo! Jangan ragu! Ayo tarik dan lepaskan ke kepalaku. Ayo!”
Ia memaksa sekali lagi. Ia tak sabar ingin segera mati oleh katapel buatannya sendiri, ingin segera menyusul arwah Ki Munawir, kucing putih, dan seluruh korban katapelnya hanya untuk satu hal; minta maaf.
ilustrasi: bagus darmasaya, kilasbali.
