Kantung Hitam Wak Tamak

Usai menyerahkan uang tujuh ribu kepada pemilik warung, Wak Tamak langsung cepat-cepat pergi.

“Ya sudah, makasih ya, Neng. Ini rokoknya saya bawa. Permisi,” ucap Mat Bejo buru-buru pergi untuk menyusul istrinya pulang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sesampainya di rumah, Wak Tamak masih tampak kesal. Sedangkan Mat Bejo harus menyiapkan mental untuk menghadapi omelan istrinya itu.

“Heh, Pak, sudah dibilangin Bapak itu nggak boleh merokok! Lagian kita itu harus ngirit,” cerocos Wak Tamak memarahi suaminya yang sedari tadi sudah ditahannya.

Lagi-lagi Mat Bejo hanya bergeming. Wajahnya tertunduk lesu. Sebatang rokok yang dibelinya tadi ia masukkan dalam saku baju, takut kalau nantinya bakal dibuang oleh istrinya.

Selama ini kehidupan rumah tangga Wak Tamak dan Mat Bejo berada di bawah kendali Wak Tamak. Tidak hanya perihal keuangan, tetapi juga ia yang mengendalikan suaminya agar mengikuti semua ucapannya. Sementara Mat Bejo hanya menurut saja. Lebih-lebih ia dulunya hanya seorang buruh, hingga akhirnya beruntung bisa menikahi anak seorang juragan tanah.

Siangnya Wak Tamak hendak pergi ke sawah untuk menengok padinya yang sebentar lagi akan dipanennya. Tak lupa, ia juga membawa serta kantong hitam yang berisi seluruh uang-uangnya.

Sesampainya di sawah, mata Wak Tamak berbinar-binar. Padinya terlihat cantik menguning keemasan. Ia pun senyum-senyum sendiri, karena sebentar lagi akan mendapatkan uang lagi.

Sepulangnya dari sawah, Wak Tamak berpapasan dengan Sukardi—tetangga Wak Tamak. Sebagai tetangga yang baik, Sukardi pun menyapa Wak Tamak, meski sebenarnya ia tidak begitu menyukai tabiat Wak Tamak yang terlampau pelit.

Sukardi masih ingat betul, bagaimana sikap Wak Tamak ketika ia hendak meminjam uang padanya untuk pengobatan istrinya. Namun, Wak Tamak enggan meminjamkannya dengan alasan ia sendiri juga butuh uang tersebut. Sukardi terus mendesaknya, karena memang benar-benar membutuhkan uang tersebut. Akhirnya Wak Tamak pun mengatakan bahwa ia enggan meminjamkan uang padanya karena takut kalau Sukardi tidak bisa mengembalikan uangnya. Sebab, Sukardi hanya seorang buruh tani yang upahnya tidak seberapa. Sedangkan Sukardi hendak meminjam uang yang jumlahnya lumayan besar, yaitu lima ratus ribu.

Sukardi mencoba melupakan kejadian itu. Ia tetap bersikap ramah kepada Wak Tamak, meski masih menyimpan perasaan sakit hati.

“Wak Tamak, dari mana kok jam segini baru pulang?” sapa Sukardi basa-basi.

“Oh, ini tadi dari sawah yang dekat balai desa itu,” balas Wak sembari menghentikan langkahnya.

“Loh, Wak, tapi kok bawa tas segala?” tanya Sukardi beralih menatap kantong hitam di tangan kanan Wak Tamak.

Tinggalkan Balasan