Wak Tamak celingukan. Ia pun bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia menjawab jujur bahwa kantong hitam itu berisi uang.
“Eh, anu, ini buat bawa HP,” jawab Wak Tamak sekenanya.

Sukardi manggut-manggut yang sepertinya percaya akan ucapan Wak Tamak.
“Ya sudah, saya permisi dulu, Wak.” Sukardi gegas melanjutkan perjalanannya, begitu pula dengan Wak Tamak.
***
Hari ini sudah saatnya Wak Tamak untuk memanen padinya. Tak lupa ia juga membawa uang-uangnya ke sawah. Wak Tamak menaruh kantong hitam yang berisi uang miliknya itu di bawah tumpukan dedaunan kering di kebun pisang Haji Tohir. Dengan begitu, tidak akan ada yang curiga bahwa di bawah dedaunan tersebut terdapat segepok uang.
Wajah Wak Tamak terlihat semringah, sebab hasil panennya kali ini lumayan banyak. Berbekal sabit, Wak Tamak dan Mat Bejo segera memulai mengarit padi dengan saling berbagi areal. Wak Tamak dan Mat Bejo dibantu dengan dua pekerja buruh, yang satu sebagai juru antar padi yang telah dipanen, dan yang satunya lagi bertugas merontokkan padinya. Pekerjaan pun selesai pada pukul empat sore.
Ketika hendak pulang, Wak Tamak gegas ke kebun pisang Haji Tohir untuk mengambil kantung hitam miliknya untuk dibawa pulang kembali. Namun, sesampainya di sana, Wak Tamak memelotot tajam. Mengucek matanya berkali-kali. Seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang.
“Eh, Wak Tamak, ketemu lagi,” sapa Sukardi yang juga berada di sana.
Seperti biasa, Sukardi memang ditugaskan oleh Haji Tohir untuk merawat kebun pisangnya. Tiba-tiba Wak Tamak terkulai lemas. Tubuhnya jatuh ke semak-semak. Sukardi bingung. Sontak ia berteriak meminta tolong. Mat Bejo datang, karena mendengar suara minta tolong.
“Ada apa?” Mat Bejo bertanya.
“I—itu, Wak …,” belum sempat Sukardi melanjutkan ucapannya, terdengar suara Wak Tamak yang menangis tersedu-sedu.
Mat Bejo langsung menghampiri istrinya yang tergolek di semak-semak. Ia bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi?
“Tidak tahu,” Sukardi menjawab pendek.
Perempuan setengah baya itu terus menangis. Sementara asap dari dedaunan kering yang dibakar Sukardi juga terus mengepul. Tumpukan dedaunan kering itu kini sudah menjadi abu yang berterbangan ketika disapu oleh angin. Barangkali itu penyebab Wak Tamak menangis tersedu-sedu. Entahlah.
KOMPAK Yogyakarta, Mei 2021.
