“Kamu ini calon Bu Nyai, masak di medsos profilnya pakai poto artis Korea, Nduk!” Kiai Farid kini menyemprot putri semata wayangnya.
Mereka tergelak di tengah kegelapan. Tak berapa lama kemudian mobil telah kembali menderu melanjutkan perjalanan.

“Sebenarnya berapa utang Abah pada orang tua itu sampai rela memasuki hutan seperti ini?” suara Ning Aina memecah kesunyian suasana di dalam mobil.
“Kepo,” sahut kakaknya.
“Tidak banyak sebenarnya. Dia pun pasti merelakannya andai aku tak mengembalikan. Tapi keberkahan silaturahmi, serta doa orang yang baru haji itu mustajab,” Kiai Farid menyahut. “Aku pun sering ditemuinya dalam mimpi.”
“Apa keistimewaannya sewaktu di pondok dulu sampai mustajab doanya?” gadis itu melanjutkan tanya.
“Haji itu, walau bukan orang luar biasa, doanya jadi luar biasa. Bukan karena orangnya, tapi karena ibadah hajinya itu. Selain itu, Kamilun di pondok dulu rajin tirakat. Pasti ada berkah yang dipetiknya sekarang dari mujahadahnya sewaktu menuntut ilmu dulu itu.”
Detik berikutnya mereka berhenti di sebuah musala kecil berdindingkan bilah-bilah papan di pinggiran persawahan. Kanan-kirinya hanya ada beberapa rumah yang berjajar berjauhan. Temaram jalan disinari lampu dari rumah-rumah itu. Berkas-berkas cahaya itu berpendar karena bersiborok dengan gerimis tipis.
Di dalam musala hanya ada seorang imam dengan satu makmum perempuan. Sang imam membaca surat Al-Ikhlas dengan suara tak lagi jelas makhraj dan tajwid-nya. Kiai Farid dan rombongannya menjadi makmum orang tua itu setelah berwudhu di pancuran depan musala.
Usai salat mereka menghampiri orang tua yang menjadi imam salat itu. Gus Dan mengajukan pertanyaan tentang keberadaan desa tempat tinggal teman abahnya yang sedang mereka cari.
“Sekitar sepuluh kilo lagi Mas baru akan menemukan permukiman yang merupakan bagian dari desa Putuksepi. Di sana lumayan ramai, kalau di sekitar sini memang masih jarang penduduknya.” Imam salat yang telah renta itu menjawab pertanyaan Gus Dan dengan suara pelan.
“Kalau rumah Kiai Kamilun, Kakek tahu?” Gus Dan kembali bertanya.
“Kiai Kamilun? Wah, maaf kalau nama Kamilun itu belum pernah tahu saya. Yang sering dengar cuma Gus Toha. Sebaiknya tanya orang di sana saja,” pinta orang tua itu.
Mobil Avanza putih itu melanjutkan perjalanan kembali. Beberapa orang warga yang tengah beristirahat menyempatkan bangun lantas melongok mobil itu melalui celah bilah papan dinding rumahnya. Sebuah pemandangan yang jarang terjadi ada mobil lewat depan rumah mereka di malam hari seperti ini. Jalan yang terjal membuat mobil itu melaju dengan kecepatan rendah.
Malam mulai larut ketika mereka telah sampai di desa Putuksepi. Namun sayang, beberapa orang yang ditanyai tentang alamat rumah Pak Kamilun tidak ada yang tahu.
“Rumah Haji Kamilun yang naik haji tahun ini ada di mana ya Pak?” tanya Kiai Farid.
Beberapa lelaki yang tengah bercengkrama di pos jaga itu terlihat bingung dan kemudian menjawab tidak tahu. Akhirnya rombongan dari Yogja itu menuju masjid untuk salat. Melihat keadaan tempat ibadah itu Kiai Farid merasa iba dan prihatin. Teras sebelah kiri bocor membuat lantai basah dan tergenang air. Sedangkan teras sebelahnya ramai digunakan mengaji belasan remaja putra dan putri.
Seorang pemuda tampak telaten mengajari mereka mengaji. Kiai Farid dan rombongan lantas berjalan menuju ke dalam masjid untuk salat. Ayah dua orang anak itu berdoa khusyuk sekali.
Ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Mereka kembali berhenti. Pemuda yang mengajar ngaji tadi datang menghampiri setelah pengajian usai.
“Sepertinya datang dari jauh, Pak? Mau ke mana kalau boleh tahu?” tanya ustadz itu.
“Kami mau silaturahmi ke rumah Haji Kamilun,” jawab Gus Dan datar. Perutnya telah didera rasa lapar.
“Siapa itu?” sahut ustadz tadi.
“Orang sini yang naik haji tahun ini,” Kiai Farid ikut menimpali.
Setelah terlihat berpikir, ustadz itu mempersilakan mereka berteduh di rumahnya yang berada di samping masjid. Mereka pun tak menolaknya. Kopi panas dihidangkan pada mereka sebentar setelah mereka duduk di kursi rotan.

“Awas kalau ikut-ikutan orang-orang yang suka mengkafir-kafirkan sesama muslim itu. Sukanya takbir di mana-mana, bukannya untuk mengagungkan Allah, malah diri sendiri yang diagung-agungkan.”
Jleb!
Harus seimbang antara takbir & traktir wkwwkwk