Kartini Masih Menulis: Dari Surat hingga Suara Perempuan

Setiap tanggal 21 April, kita kembali merayakan sosok yang tak pernah selesai dibicarakan: Raden Ajeng Kartini. Di sekolah-sekolah, anak-anak perempuan mengenakan kebaya, menyematkan melati di rambut, dan membacakan puisi tentang emansipasi.

Di balik parade itu, pernahkah kita berhenti sejenak, menyimak kembali isi surat-surat Kartini, dan bertanya: apakah semua yang ia perjuangkan benar-benar sudah kita capai?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kartini lahir di Jepara, 1879, dari keluarga bangsawan Jawa. Sebagai anak bupati, ia diberi kesempatan belajar di ELS, sekolah khusus anak Eropa dan priyayi.

Ketika usianya menginjak 12 tahun, ia harus berhenti sekolah karena dipingit—sebuah tradisi yang mengasingkan perempuan dari dunia luar atas nama kehormatan.

Dalam ruang sepi yang sempit, Kartini menyalakan cahaya. Ia menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, dengan bahasa yang jernih dan gagasan yang melampaui zamannya. Ia tidak sekadar mengeluh, ia merumuskan perlawanan: bahwa perempuan layak berpikir, layak belajar, dan layak memilih jalan hidupnya sendiri.

Dari surat-surat itu, lahirlah buku Door Duisternis tot Licht—Habis Gelap Terbitlah Terang. Judul yang indah, tapi juga menyimpan ironi. Sebab meskipun terang sudah datang, gelap belum sepenuhnya pergi.

Tinggalkan Balasan