Kartini bukan sekadar tentang perempuan. Kartini adalah tentang siapa pun yang ingin hidup dengan hak yang setara: untuk berpikir, untuk memilih, untuk bermimpi. Emansipasi bukan hanya hak perempuan, tapi tanggung jawab bersama.
Kini, Kartini tak lagi menulis di atas kertas, melainkan dalam bentuk lain: dalam esai-esai aktivis muda, dalam orasi mahasiswa, dalam film, dalam puisi yang lahir dari luka dan harapan. Ia menulis melalui mereka yang tak pernah letih memperjuangkan keadilan.

21 April bukan hari untuk sekadar mengenang. Ia adalah hari untuk bertanya: apa yang masih harus kita lakukan agar terang itu benar-benar menyala, bukan hanya di kota, tapi juga di kampung-kampung; bukan hanya di layar televisi, tapi juga di ruang-ruang keluarga?
Selama pertanyaan itu masih relevan, maka Kartini belum selesai menulis. Dan tugas kita adalah melanjutkan kalimat-kalimatnya, dengan kerja nyata yang berakar pada keadilan. Selamat hari Kartini.
Purbalingga, 2025.
