Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah untuk anak perempuan usia 16–18 tahun masih berada di angka 65,49%. Artinya, satu dari tiga remaja perempuan Indonesia masih tidak menyelesaikan pendidikan menengah atas.
Di sisi lain, UNICEF melaporkan bahwa sekitar 11% anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, dan Indonesia menjadi negara dengan angka perkawinan anak tertinggi kedua di ASEAN.

Dalam dunia kerja, kesenjangan masih nyata: rata-rata upah perempuan 22% lebih rendah dibanding laki-laki untuk jenis pekerjaan yang sama. Di politik, keterwakilan perempuan di parlemen Indonesia hanya sekitar 21%, jauh dari ambang ideal partisipasi demokratis yang inklusif.
Semua ini membuat kita bertanya: sudah sejauh apa kita berjalan dari langkah kecil Kartini dulu?
Kartini wafat dalam usia yang sangat muda—25 tahun, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya.
Ia tak sempat menyaksikan buah dari benih yang ia tanam. Tapi sejarah membuktikan bahwa benih itu tumbuh: dalam perempuan yang memimpin ruang-ruang pendidikan, dalam suara-suara yang menuntut kesetaraan di jalanan, dalam undang-undang yang sedikit demi sedikit mencoba berpihak.
