Kartini, Pengagum Quran dan Tokoh Emansipasi

Pertemuan Kartini dengan Kiai Sholeh membawa perubahan besar dalam dinamika keberislaman masyarakat, baik berupa emansipasi Islam yang lebih dinamis dan terbuka, penyemaian paham agama yang lebih tolerir, hingga adanya penerjemahan Al-Quran sebagai suatu dakwah di saat minimnya pengetahuan berbahasa. Setelah pertemuan itu, kiai Sholeh sendiri kemudian mengabdikan diri untuk memberikan pemahaman Al-Quran kepada khalayak melalui suatu proses penafsiran dan penerjemahan sesuai dengan kaidah kebahasaan daerah dengan konteks dinamika pemasalahan yang berkembang.

Ayat demi ayat, juz demi juz perlahan diselasaikan oleh Kiai Sholeh. Sebanyak 13 juz dihadiahkan sebagai kado pernikahan Kartini, yakni dari surah al-Fatihah sampai surah Ibrahim. Setelah itu, Kartini tidak lagi mendapatkan terjemahan dari Kiai Sholeh karena wafat sebelum merampungkan pengabdiannya itu. Tapi sejarah mencatat, tafsir Kiai Sholeh yang tergugah dari kekaguman sosok Kartini terhadap Al-Quran, menjadi kitab tafsir perdana yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab (Lukman, 2017).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Itulah sejarah panjang RA Kartini yang tidak akan ada habisnya dikaji, baik dari tarikan historis maupun perjuangan substantif. Setiap jengkal momentumnya adalah rajutan pelajaran yang perlu direfleksikan dewasa ini. Kekagumannya kepada Al-Quran menjadi suatu kritik tersirat terhadap kondisi sosial waktu itu. Al-Quran telah melahirkan suatu perjuangan emansipasi Islam yang luar biasa melalui sosok perempuan yang kagum terhadapnya. Bahkan, ungkapan legendaris, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ dipercaya didapat Kartini dari ungakapan retoris al-Quran, minazzulumati ilannur (dari kegelapan menuju cahaya, QS Ibrahim, 14:1).

Tinggalkan Balasan