Kartini, Pengagum Quran dan Tokoh Emansipasi

Dalam banyak literatur disebutkan, Kartini (1879-1904) lahir dan tumbuh dalam keluarga ningrat yang kental dengan adat istiadat. Sang Ayah, RM Sosroningrat adalah seorang Bupati Jepara. Permasalahan Islam waktu itu adalah sifatnya yang otoritatif dan dipaksakan menjadi suatu kehendak bersama, seperti tafsir tunggal dan larangan penerjemahan Al-Quran, ruang keislaman yang sempit, hingga dialektika agama yang terbatas pada orang muslim saja.

Permasalahan yang ditemuinya itu mendorong Kartini banyak mencurah kegundahan kepada sahabat penanya, Stella Zeehandelaar (06 Nopember 1899) atau Ny Abendanon (15 Agustus 1902). Ada banyak curahan jika kita jabarkan, tapi curhan Kartini itu tidak terlepas curahan ‘keberislaman yang tertahan dalam kungkungan sosial’. Dalam Api Sejarah (2009), Prof Ahmad Mansyur Suryanegara mengatakan bahwa Kartini menilai Al-Quran sebagai gunung kekayaan yang terpendam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dikatakan dalam kutipan surat tertanggal 15 Agustus 1902 kepada Ny. Abedanon, “Alangkah bebal dan bodohnya kami, kami tidak melihat, tidak tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami,” (Mansyur, 2009).

Kegundahan Kartini baru rampai ketika ia berkesempatan berguru kepada ulama dari Darat, Semarang Jawa Tengah, yakni Kiai Sholeh Darat (Fadhila Sholeh, Buletin Sejarah Semarang). Keduanya bertemu dalam pengajian Islam yang diadakan di kediaman Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat (Paman Kartini). Kegelisahannya selama ini ia adukan semuanya kepada kiai Sholeh, termasuk kekagumannya terhadap tafsir surah al-Fatihah yang disampaikan kiai Sholeh dalam pengajian itu. Kartini mengakui baru berkesempatan bisa mereguk makna tersirat dalam Al-Quran, walau sekadar surah pembuka.

Tinggalkan Balasan