“Ya, ayok. Kita makan sama-sama ini,” timpal Pak Udin yang sudah tak sabar mau mengambil bakwan, makanan kesukaannya.
Gorengan yang disuguhkan Pak Memed itu tak sampai lima menit lesap semua oleh ketiga orang itu. “Ngomong-ngomong. Pak Hardi yang beberapa bulan lalu baru pindah ke sini, kok, nampaknya jarang keluar rumah, ya? Apa pekerjaannya, Pak?” tanya Pak Udin seraya menyesap kopi yang masih tampak mengepul dari gelasnya.

“Kalau dari KTP yang saya terima kemarin saat pindah domisili, sih, tertulis karyawan kalau enggak salah, ya,” jawab si kepala desa Suka Makmur itu.
“Tapi, kok, sepertinya enggak pernah keluar rumah untuk bekerja, ya. Emangnya bekerja di mana?” Pak Memed tak kalah penasaran juga.
“Aku juga enggak tahu, Pak. Atau yang selama ini menjadi pencuri adalah ….” Pak Gugun mendadak berubah serius memandang kedua warga di depannya itu. Dia sedikit mencondongkan badannya. Sementara itu, Pak Memed dan Pak Udin mengangkat bahunya, menyiratkan ketidaktahuan mereka tentang kabar burung yang sedang mereka bahas.
***
Malam ini Pak Hardi yang semalam digunjingkan oleh sejumlah warga mendapat jatah meronda dengan Pak Memed dan Pak Udin lagi. Akan tetapi, ia belum juga nongol batang hidungnya. Sedangkan, kedua warga yang lainnya sudah hadir di pos ronda desa.
“Aku tebak, Pak Hardi tak akan datang. Aku curiga seperti yang dituduhkan Pak Kades tadi malam. Jangan-jangan dia ….”
Belum usai menyelesaikan ucapannya, sosok yang sedang dibicarakan Pak Udin tiba-tiba muncul. Lelaki itu mengumbar senyumnya dari kejauhan. Di tangannya ada tentengan, tetapi bukan berupa makanan untuk teman rondanya kali ini.
“Assalamualaikum, Pak Memed, Pak Udin,” sapa pria yang baru saja mengikis jarak dengan Pak Memed dan Pak Udin.
