Kasih Ibu

Langkah kaki Rizki semakin cepat ketika mendengar penggilan ibunya. Isti tak menyerah, dan mengejar sambil terus memanggil anaknya. Tetapi apa daya, kaki tua Isti tak mampu mengimbangi cepatnya langkah putrinya yang berusia belasan tahun itu. Tiba-tiba suara ibunya tak lagi terdengar, Rizki pun menengok ke belakang. Ia melihat ibunya tergeletak di tengah jalan berbatu.

“Ibu…” Rizki berbalik menghampiri ibunya. “Ibu maafkan aku.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sengaja Isti tidak membuka matanya selama beberapa menit untuk mendapatkan hati Rizki. Air mata Rizki tak hentinya terjatuh. Tak tega melihat putri kesayangannya terlarut dalam penyesalannya, Isti membuka matanya.

“Sudah, hentikan tangismu, Nak.” Jawaban Isti menerbitkan senyum di wajah Rizki.

“Ayo kita pergi meninggalkan Bapak sekarang. Aku tak ingin ibu semakin menderita.”

“Jika ibu pergi meninggalkan Bapakmu, apa kata orang-orang kepada Bapakmu? Pasti mereka akan menyalahkannya. Ibu tak memilih pergi meninggalkan kalian karena ibu tak ingin keluarga kita terpisah. Selama tidak membahayakan jiwa kita, ibu rela menerima kata-kata kasar atau pukulan ringan bapakmu.” Isti membangunkan tubuh rentanya dari tanah, kemudian berjalan sambil menggandeng erat tangan Rizki.

“Dulu bapakmu adalah orang baik. Bapakmu orang yang sabar, pekerja keras, dan penyayang keluarga. Mungkin akibat benturan keras sewaktu kecelakaan menyebabkan gegar otak akibat yang dialaminya ia sekarang menjadi pemarah. Mungkin juga ditambah dengan kondisi kakinya yang tak sempurna itu, bapakmu semakin terbebani. Ia tidak bisa mengendarai bus dengan cekatan sehingga tidak banyak penumpang yang menyukainya. Betapa bersalahnya kita jika meninggalkan bapakmu dalam masa susah.”

***

Usai perpisahan kelas XII digelar, Pak Naryo memanggil Rizki dan orang tuanya untuk segera ke ruang BK. Ia mengabarkan bahwa Rizki telah lolos SNMPTN di salah satu kampus ternama. Mendengar itu, mereka bergembira, tetapi lain dengan Rizki. Rasa khawatir menyelimuti wajahnya.

“Selamat ya, Ris.” ucap Pak Naryo dengan tersenyum.

“Terima kasih, Pak. Kami mohon izin untuk pulang,” sahut Rizki. Mereka bertiga meninggalkan ruang BK.

“Nanti waktu perjalan pulang kita mampir ke Rumah Makan Mapan untuk merayakan kesuksesanmu.”

“Apa ini tidak berlebihan?” Perkataan Rizki membuat suasana hening sejenak. Jayus menatap Rizki dengan senyum yang semakin memudar.

“Bagi kami, kamu diterima sebagai mahasiswa adalah kebanggaan karena Allah telah memberikan kelebihan ilmu dibanding anak-anak lainnya,” Isti menghibur putrinya.

“Tetapi biaya kuliah tidak murah, Bu. Belum tentu juga setelah lulus aku bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa membanggakan Bapak-Ibu.”

“Bukankah dengan kamu berkuliah berarti kamu akan mendapatkan ilmu yang lebih dibanding dengan anak yang tidak berkuliah? Apa dengan tidak dijaminnya mendapat pekerjaan yang layak lalu kamu berhenti menuntut ilmu?” tanya Jayus.

Rizki menjelaskan keinginannya untuk tidak membebani orang tuanya dengan berkuliah. Ia ingin lekas bekerja untuk membantu ekonomi orang tuanya.

“Kamu harus kuliah. Insyaallah, Allah akan memudahkan jalan orang yang menuntut ilmu. Aku juga sudah lama menabung dengan menyisihkan uang belanja untuk persiapan masa depanmu. Jadi, jangan mengkhawatirkan kami.”

“Tapi, Bu…” belum sempat Rizki menyelesaikan ucapannya, Isti menukasnya.

“Dengan kamu melewatkan kesempatan ini, berarti kamu telah mengecewakan kami. Satu-satunya harapan kami untuk mengubah nasib, kamu pupuskan.”

***

Kebahagiaan mendatangi keluarga Rizki hari ini karena akan ada calon besan yang berkunjung ke kos Rizki untuk membicarakan pernikahan kedua anak mereka. Jayus dan Isti sengaja berkunjung ke kota yang beratus kilometer jaraknya untuk menemui calon menantu serta calon besannya. Mereka membawakan beraneka penganan dari kampung sebagai ungkapan syukurnya atas lamaran anaknya. Sesampainya di kosan Rizki, peluk cium Isti dijatuhkan ke tubuh putri semata wayangnya.

“Ini uang saku dari kami, terimalah ini, Riz.” Walaupun Rizki sudah bekerja, Isti tetap menganggapnya sebagai gadis mungil kesayangannya.

“Saya sekarang sudah bekerja sebagai penulis sekaligus editor di Penerbit Lentera Ilmu. Gajinya sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi, tidak perlu memberikan uang saku lagi, Bu.”

“Terimalah uang pemberian kami ini, sebagai syarat kami menafkahimu. Bukankah kewajiban orang tua menafkahinya sampai anak perempuannya sudah menjadi istri seseorang.” Melihat ibunya memohon dengan sangat, Rizki memutuskan menerima uang pemberian ibunya.

“Baiklah Bu, saya menerimanya. Terima kasih, Bu.” Berkali-kali Rizki mengecup tangan keriput orang tuanya untuk meluapkan perasaan cinta kepadanya.

“Jam berapa calon menantuku datang?” tanya Jayus kepada Rizki.

Belum sempat Rizki menjawab, suara ketukan pintu terdengar. Rizki berdiri dari tempat duduknya untuk membuka pintu kosnya,

“Assalamuaikum…”

“Waalaikumsalam…”

Pandangan Adit dan Okta menjadi malas ketika memasuki kamar kos yang berukuran 25 meter persegi. Wajah orang tua Rizki yang tampak miskin dengan baju sederhana menambah tawar hati mereka.

“Kelak Rendi akan kami warisi beberapa showroom mobil. Coba jelaskan mengenai latar belakang keluarga Anda serta pekerjaan Anda?” tanya Adit, ayah Rendi.

Isti menjelaskan bahwa pekerjaannya sebagai pemilik toko kelontong di desanya, suaminya sebagai penarik angkutan umum, sedangkan anaknya bekerja sebagai editor sekaligus penulis lepas di sebuah penerbit.

Tinggalkan Balasan