Kasih Ibu

“Mengapa kamu lebih memilih dia, Ren? Apa kelebihannya dibandingkan Sherly. Ia sekarang menjadi manager di swalayan milik keluarganya. Di masa depan, Sherly akan menjadi pewaris usaha milik keluarganya,” kata Okta, ibu Rendi.

“Rizki lebih cantik, Bu. Ia juga cerdas. Setelah merenerima ijazah sarjana, ia akan dijadikan manejer tim kreatif di tempat kerjanya jika mampu mempertahankan kinerjanya. Saya yakin nanti Rizki bisa membantu saya dalam mengelola usaha Papa dan Mama.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Menjadi direktur kreatif tetap saja menjadi pekerja, bukan pemilik perusahaan. Sudah dari dulu, orang tak punya merayu anak orang kaya itu untuk mengubah nasibnya,” celetuk Okta. Isti merasa kecewa anaknya direndahkan.

“Atas dasar apa, Anda berprasangka? Walaupun bukan sebagai pemilik perusahaan, Rizki ini anak yang mandiri. Ia berkuliah dengan biaya sendiri, tanpa bantuan orang lain, dan ia selalu mendapatkan nilai hampir sempurna.”

“Coba jelaskan apa motif keluarga Anda menerima lamaran Rendi jika bukan karena harta?” ucapan Okta menyulut amarah Jayus. Ia tak tahan hendak menumpahkan kemarahannya.

“Ma!…” kata Adit dengan nada tinggi. “Mohon maaf, atas sikap istri saya. Mohon maaf, kami belum bisa memutuskan untuk melamar Rizki. Kami akan mendiskusikan hal ini terlebih dahulu.”

“Tahan amarahmu, Pak. Jangan sampai kita memperkeruh keadaan,” bisik Isti kepada suaminya.

Seketika tangan Isti memegang kepalan tangan Jayus untuk memberikan isyarat agar Jayus mengendalikan diri. Ia meremas tangan Isti sekuat tenaga untuk melampiaskan marahnya. Karena Jayus meremas kuat, Isti menyeringai menahan kesakitan.

Air mata Rizki terurai ketika keluarga Rendi meninggalkan kosnya.

“Jika memang jodohmu, walaupun ada rintangan apa pun, pasti kalian akan bersatu. Tetapi alangkah baiknya jika pernikahan mendapat restu orang tua,” Jayus berusaha menghibur Rizki.

Malam ini Isti menemani anaknya tidur di kamarnya. Semalaman, Isti mendengar anaknya tersedu-sedu. Isti hanya bisa pura-pura tak mengetahuinya. Ia tak telah kehabisan kata-kata untuk meredakan ketawarhatian Rizki.

***

Rasa tak tega melihat anaknya larut dalam kesedihan selama berhari-hari memaksa Isti untuk mengajak Jayus menemui Okta. Ia ingin kembali merembuk perjodohan kedua anak mereka.

“Mohon maaf Bu, apa yang membuat Anda tidak bisa menerima Rizki jadi menantu Anda?”

“Bukankah semua keluarga menginginkan anaknya mendapat kebahagiaan. Salah satu kebahagiaan itu adalah kecukupan finasial. Kami tak ingin kondisi ekonomi Anda menjadi beban kami,” jawab Okta.

“Yang memberatkan Anda, jika kami meminta uang kepada Rizki?”

“Kami hanya butuh komitmen Rizki benar-benar tulus mencintai Rendi. Keluarga besan harus berjanji di atas materai tidak akan meminta gaji Rendi dan Rizki,” pinta Okta.

“Mama keterlaluan jika seperti itu. Tidak perlu mereka membuat surat seperti itu!” Adit menimpali.

“Setelah mereka menikah bukankah kita mewariskan beberapa showroom kepada Rendi? Ini sebagai antisipasi mereka memanfaatkan kita.”

“Tapi aku menolak jika selamanya besan tidak boleh meminta bantuan finansial kepada mereka. Berikan jangka waktu yang realistis. Aku lebih setuju jika membatasi nominal uang pemberian kepada besan,” sekali lagi Adit menyanggah.

“Jika hanya kami tidak boleh meminta uang kepada mereka, kami pasti setuju. Selama ini kami ikhlas menafkahi Rizki. Tak pernah terbesit dalam hati kami untuk meminta kembali yang telah kami berikan kepada anak kami,” Jayus menimpali.

***

“Istri Anda mengidap kanker serviks stadium lanjut. Sel kanker telah menyebar ke paru-paru. Kami sudah berusaha maksimal. Saran kami, biarkan istri Anda menikmati kehidupannya karena kondisi psikologis Ibu Rizki sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan. Obat dan kemo akan sangat efektif jika kondisi psikologis Ibu Rizki baik,” penjelasan dokter kepada Rendi.

“Baik, Pak. Terima kasih.” Usai bercakap, Rendi pun keluar menuju ke mobilnya.

“Maaf ya Ma, terlalu lama menunggu, ini tadi saya msih konsultasi dengan Dokter Adi.”

“Tidak mengapa Pa. Apa kata Dokter Adi?” tanya Rizki.

“Cuma bilang besok dua minggu lagi Mama harus kontrol dan kemo. Sekarang kita ke mana, Ma? Langsung pulang atau ke mana?”

“Sebenarnya aku ingin pulang menemui ibu, Pa.”

“Baiklah, kita pulang dulu untuk menjemput Amel.”

“Tidak perlu Pa, aku ingin sendirian menemani ibu. Kasihan Amel jika membolos, nanti tertinggal pelajarannya. Saya titip Amel ya, Pa?”

Dengan berat hati, Rendi melepas kepergian Rizki. Bersama deru kereta api, Rizki pulang ke kampung halamannya untuk melepas rindu kepada ibunya.

ilustrasi: encyclopedia dki, karya amang rahman.

Tinggalkan Balasan