Ke Mana Arah Media Islam?

Beberapa redaktur yang pernah penulis temui, menjawabnya dengan beragam. Ada yang tak begitu ambil pusing soal prinsip-prinsip jurnalistik atau prinsip open-mindedness tadi, karena mereka sadar kalau diksi-diksi bombastis, apologetik, atau substansi yang repetitif itu dapat menarik viewers (yang sebenarnya tidak jauh-jauh berasal dari ideologi yang sama).

Dalam pandangan ilmu komunikasi, hal tersebut dapat dipadankan dengan istilah “memberi makan” emosi dan kepercayaan audiens. Logika kerjanya mirip dengan click-bait. Di lain sisi, media bersangkutan juga jadi punya “pembaca setia” yang terus haus kenikmatan ideologis. Jadi, sekali dayung, dua pulau terlampaui. Pada titik ini, walaupun memuat pendidikan ideologis, tetapi nilai edukasi atau pembiasaan nalar kritis dari suatu media layak dipertanyakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, ada juga sebagian redaktur yang begitu telaten memeriksa kata demi kata hanya untuk memastikan naskah yang ia terima telah rigit, tak ada logika yang patah, substansi yang menceng, dan tujuan penulisannya segar. Ada juga sebagian redaktur lain yang bahkan membolehkan penerbitan naskah yang secara ideologis kontras, namun memiliki nilai edukasi publik tinggi.

Memang di tengah perang ideologis yang taruhannya adalah keutuhan bangsa, penguatan dan promosi ideologi yang berpihak pada universalisme dan pluralisme, penting untuk digalakkan. Tetapi, di samping itu, tidak kalah penting juga untuk memastikan bahwa penguatan dan promosi ideologi itu tidak mengantarkan kita pada falasi komunal, di mana kemampuan untuk berpikir konvergen atau berpikir dari banyak perspektif (sekalipun dari perspektif yang berseberangan) hilang. Kalau kemampuan itu hilang, risiko untuk melahirkan umat-umat agresif juga semakin besar.

Ingat, KH Wahid Hasyim, dalam tulisannya yang bertajuk Mengapa Saya Memilih NU (1953), perlu waktu 4 tahun hanya untuk menimbang apakah ia harus masuk NU atau tidak, meski NU adalah organisasi buatan ayahnya sendiri. Hal ini menyiratkan bahwa, sejak awal, tradisi berpikir kritis dan bahkan tradisi evaluatif terhadap pemikiran kita sendiri, telah dicontohkan oleh leluhur kita sendiri.

Dalam konteks media Islam, adalah pilihan: apakah memilih mengedepankan ideologi tanpa ada persiapan-persiapan terukur terkait konsekuensi kognitif yang ditimbulkan semangat ideologis itu? Atau memilih mengedepankan format, muatan, atau konten yang lebih edukatif dan terbuka bagi penajaman basis kognitif umat?

Tinggalkan Balasan