Di saat yang sama, organisasi-organisasi Islam konservatif-modernis, paramiliter atau bahkan yang transnasional sekalipun, sedang bermekaran setelah dua dekade eksis di Indonesia sejak era Reformasi. Ide-ide mereka mulai dominan berkat kepiawaian memainkan media sosial dan platform-platform Internet.
Rupanya ini mengusik ketenangan publik muslim Indonesia. NU dan Muhammadiyyah, selain merasa punya tanggung jawab pengentasan, juga punya keselarasan dengan kekuasaan yang tidak senang dengan agenda politik Islam ataupun gagasan Islam transnasional yang dibawa organisasi-organisasi itu.

Momentumnya kemudian terjadi saat peristiwa Ahok dan peristiwa pelarangan Hizbut Tahrir Indonesia di tahun 2017. Sejak saat itu perselisihan antara mana yang Islam Pancasila dan mana Islam yang konservatif-modernis memasuki eskalasi baru. Seiring naiknya eskalasi ini, juga naik intensitas mereka bermedia.
Pelatihan literasi digital, pendidikan etika digital, sosialisasi moderasi beragama di ruang maya, dan lain sejenisnya gencar diselenggarakan, dari mulai aula seminar hingga masjid pondok pesantren. Portal-portal berita dan kanal keislaman juga tidak kalah bersemarak. Tetapi masalahnya, pada derajat tertentu, tidak jarang semangat ini mengkristal sedemikian rupa hingga mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik, atau bahkan prinsip keterbukaan ilmiah (open mindedness).
Beberapa media Islam di Internet, misalnya, sekalipun dari kalangan moderat, masih mudah ditemukan penggunaan diksi-diksi yang bersifat menyudutkan lawan ideologisnya (walaupun lawannya ini memang tak terhitung kemencengannya), apologetik, bombastis, populis, dan glorifikatif terhadap ideologinya sendiri. Produk-produk yang memuat kualitas seperti itu biasanya diloloskan oleh redaktur atau pihak editorial semata karena keselarasan ideologi atau kesesuaian dengan misi golongannya.
Ini tidak keliru, tetapi membuka peluang besar untuk jadi polusi wacana dalam atmosfer media-media keislaman. Banyak konten-konten yang substansinya sama, tapi dengan susunan kata bombastis yang berbeda, tetap diterbitkan. Ini bisa jadi pertanyaan, apakah media-media Islam moderat ini akan menghabiskan sebagian besar energi mereka hanya untuk masalah ideologi miliknya? Tak adakah sesuatu yang universal yang dapat mereka berikan? Kalau memang ada, sejauh apa?
