Keadaan yang Membentuk Kesadaran Santri

Pada tiap kisah yang dituturkan memiliki karakter masing-masing yang membentuk alurnya. Sedemikian rupa, akan menjadi menarik bagi sebagian kalangan, namun buruk untuk khalayak yang lain. Begitulah kiranya pesantren yang kami tinggali saat ini.

Riuh suara yang bukan merupakan suara aksi demonstran, namun merupakan wirid wajib bagi santri yang sedang mengabdi di sini. Menenangkan sekaligus membakar semangat pengabdian. Tak jarang santri mulai lupa tugas dan kewajiban menjaga Kalam-Nya. Karena merasa sudah tak lagi terkekang peraturan. Terlampau nyaman, melenakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak jarang, riuh yang demikian itu juga membakar semangat warga sekitar pesantren. Tepatnya semangat untuk mengomentari dan selalu mengkritik. Saya sempat bingung tentang hal-ihwal ini. Apakah telinga mereka terbuat dari kertas? Yang mudah sekali tersulut api, kemudian menganggap sahut-sahutan wirid Quran tadi sebagai apinya. Bahkan sampai berani mengacungkan parang di hadapan Kiai kami lantaran merasa terganggu oleh ramainya anak-anak yang sedang mengaji.

Wahai, manusia!

Angin yang sejuk mengembus setiap hari. Menemani para santri mengaji. Pesantren yang semula sepi dari pepohonan, kini sudah ramai dinaungi saung-saung bambu. Tempat seperti inilah yang mereka gunakan untuk mengaji, bahkan untuk pembelajaran kelas formal.

One Reply to “Keadaan yang Membentuk Kesadaran Santri”

Tinggalkan Balasan