Suara kicau burung jalak milik Kiai pun ikut meramaikan. Mengapa jalak? Sebab, jalak, menurut Kiai, merupakan perlambang budi pekerti yang luhur. “Jalak”, juga berarti “jaga akhlak!” Saya rasa ia pun ikut mengaji.
Saban hari, saat Kiai kedatangan tamu, dengan bangga beliau membawa tamu-tamunya itu untuk keliling pesantren. Sekadar melihat-lihat, tentunya setelah dijamu di kediamannya tadi.

Melihat pemandangan santri yang sedang belajar di geduang memang sudah biasa. Namun, melihat keadaan santri yang belajar formal di tempat lesehan seperti saung hal tak biasa bagi tetamu. Padahal, sejak awal berdirinya pesantren ini, santri sudah terbiasa belajar bernaungkan atap tenda. Layaknya tenda hajatan, tak bersisi, tak berlantai. Suara saling bersahutan tumpang tindih antara kelas-kelas yang terisi. Bukan tak ingin, akan tetapi pesantren cabang ini memang masih dalam tahap belajar berjalan sendiri. Karena selama ini disubsidi oleh pesantren pusat. Tidak mungkin mencekik wali santri dengan menambah bayaran bulanan.

Pengurus pesantren menyadari sejak awal harus mandiri dalam hal finansial. Oleh karenanya, santri diajarkan serta beternak dan bertani. Terasa dampaknya setelah memasuki masa pandemi. Memakan hasil bumi yang ditanam sendiri merupakan sebuah kepuasan tiada tara. Selain itu, bisa ikut mensejahterakan dompet pesantren dari hasil penjualannya.

Saya tidak menemukan nama pesantren dan dimana lokasinya dari artikel ini. Apakah memang dirahasiakan?