Kembali ke tamu Kiai yang melihat pemandangan tak biasa tadi. Tamu itu pun bertanya, “Apakh tidak masalah kelas belajar seperti ini? Kan, suaranya sahut-sahutan. Nanti berisik bagaimana? Lalu apakah tidak masalah mencampurkan santriwan/wati dalam satu kelas? (Notabene santri tahfizh) Apakah mereka tidak lirik-melirik?”
Dibanjiri pertanyaan seperti itu tidak membuat Kiai terombang-ambing. Sebaliknya, beliau menjawab dengan penuh ketenangan.

“Kami bahkan telah melalui masa lebih parah daripada ini. Buktinya, mereka tetap berprestasi meski dengan keadaan demikian. Alhamdulillah, beberapa angkatan alumninya sudah banyak yang meneruskan belajar di luar negeri. Mereka terbiasa, hal demikian (kesulitan) menjadikannya peka terhadap segala rangsangan lingkungan. Tidak lagi terganggu oleh euforia-euforia yang akan terjadi di luar sana. Telinga mereka hanya akan mendengar apa yang disampaikan di depan kelas. Dalam pendidikan, mereka mengejar hal yang substansial.”
Sambil memandang ke arah langit, beliau melanjutkan dengan tenang, “Soal lirik-melirik, kami sangat ingin kelas terpisah antara santriwan/wati. Tapi, kan, tenaga pengajar tidak mencukupi, lagi pula santrinya di sini belum banyak-banyak amat. Masih sekitar 150-an. Adanya mata mereka, ya bisa melirik. Tapi, kan, hatinya belum tentu melirik. Banyak orang yang bahkan matanya sama sekali tak melirik. Tapi hatinya sudah bergejolak.”
Panca indera diciptakan memang sesuai dengan fungsinya masing-masing. Tapi hatilah yang menentukan. Apakah akan dibawa ke arah kemaksiatan atau sebaliknya. Semua yang terjadi di pesantren ini berdasarkan kesadaran. Karena itulah yang ditanamkan oleh Kiai. Maka, tak pernah ada tuntutan harus demikian dan demikian oleh Kiai.

Saya tidak menemukan nama pesantren dan dimana lokasinya dari artikel ini. Apakah memang dirahasiakan?