Ada sebuah prototipe kearifan dalam budaya dan tradisi pesantren, yang sebenarnya adalah konsep nilai yang diwariskan oleh para wali, ulama, atau kiai di masa lalu. Di mana mereka mau menyerap tradisi apa pun ke dalamnya tanpa harus kehilangan jati dirinya.
Tradisi pesantren inilah yang sangat mewarnai pola kehidupan masyarakat disebut “kaum sarungan”. Kita tahu bahwa santri (student) yang mukim di pesantren adalah mereka yang berniat belajar mendalami agama dan sosial.

Mengapa agama dan sosial? Agama adalah pola aktif interaksi antara Tuhan dan manusia. Sedangkan, sosial adalah bagian dari kehidupan antar-sesama manusia dan makhluk lainnya.
Oleh sebab itu, berakar pada pernyataan tersebut, maka santri memiliki kewajiban untuk tidak bersikap konservatif, kolot. Melainkan harus fleksibel, lentur, dan mampu berbaur dengan siapa pun, karena perbedaan itu berakar pada sikap sosial.
