Dalam literatur ulumul hadith, perlu adanya kajian mendalam jika terdapat sebuah berita atau kejadian yang sedang hangat. Kajian ini melalui dua aspek, yaitu tentang siapa yang membawa berita dan apa isi berita tersebut. Penelusuran ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Pasalnya, untuk membendung dan menanggulangi berita bohong butuh upaya keras dan ketelitian yang banyak hanya untuk mengklarifikasi satu berita hoaks. Artinya, butuh berhari-hari untuk memfiltrasi berita hoaks satu. Berbeda lagi dengan penyebaran hoaks. Lebih mudah menyebarkan hoaks dari pada mengklarifikasinya. Hanya perlu beberapa menit, atau mungkin beberapa detik, untuk menyebarkan satu hoaks, atau bahkan sekali tekan tombol enter berita hoaks sudah tersebar ke mana-mana.
Isu hoaks kontennya bervariasi. Tergantung motif yang digunakan oleh si penyebar hoaks, atau tergantung siapa yang akan diserang dengan hoaks itu dan situasi apa yang sedang hangat terjadi untuk menggoreng isu yang terjadi, seperti bubuk mesiu yang siap diledakkan dengan sulutan sepercik api. Pelaku penyebar hoaks sudah pasti orang yang tak punya nilai kejujuran di hatinya.

Penulis sendiri sangat geli sekali melihat seseorang yang gencar menyuarakan agama dengan menggebu-gebu dengan melontarkan berbagai dalil yang beraneka ragam yang seakan-akan semua konsep agama sifatnya dogmatis yang tidak ada tolerensinya. Gelinya di mana? Gelinya adalah mereka sangat semangat dalam beragama, tapi lemah dalam berpikir sehingga dengan mudah sekali diprovokasi dan seketika langsung meledak bagai petasan kembang api.
Tidak ada perbedaan kalau kita tetap menghargai perbedaan. Artinya pluralisme akan seperti sebuah kesatuan yang utuh jika kita mampu mengkolaborasikan sehingga yang nampak adalah indahnya keberagaman tanpa adanya saling menghujat karena perbedaan.
Memang benar, perbedaan itu indah. Seindah perbedaan sebuah benang yang beraneka ragam kemudian disatupadukan dalam untaian sebuah sulaman kain bermotif, tidak polosan. Atau bagai semburat beberapa warna di langit pasca hujan membentuk sebuah pelangi. Bukankah keindahan pelangi dihasilkan dari perbedaan warna? Itulah kehidupan.
Menengok ke belakang di beranda sejarah kita, bahwa saat Rasulullah masih memijakkan kaki di semenanjung Arabia, beliau seoranglah pemegang kalimatul haq. Hanya beliau, bukan yang lain. Akan tetapi, setelah beliau wafat, pemegang kalimatul haq ini turun kepada para sahabat yang menjadi saksi hidup Rasulullah. Dan kekuatan kalimatul haq ini berada pada toleransi antarsesama sahabat didukung persatuan para sahabat. Tak jarang dari mereka yang di satu sisi sebagai murid, di sisi lain menjadi guru bagi sahabatnya. Toleransi terhadap setiap perbedaan yang menghiasi kehidupan para sahabat ini patut kita teladani.
