“Jey! Ini Aminah menunggumu…,” teriak seseorang. Disusul dengan tawa banyak orang.
“Hhuwa-hhuwa…huuhh…hahhhh,” Jey akan merespons demikian jika melintas persis di depan rumah seorang gadis. Ia kemudian bermanuver, dengan membelok-belokkan stir sepeda jawanya ke kanan atau kiri. Atau bahkan angkat stir. Ia kemudian akan menggenjot dengan keras hingga melaju kencang, kemudian sreeetttt…. mengerem dengan mendadak hingga roda belakang sepedanya berhenti berputar dan menggerus jalan. Bocah-bocah yang iseng mencoba mengejarnya. Tapi saat Jey mengerem mendadak sepedanya, mereka berlarian berbalik arah. Orang-orang kemudian bertepuk tangan diiringi dengan derai tawa.

Ia kemudian akan berhenti beberapa saat, dan tetap nangkring di atas sepedanya. Tapi, matanya yang besar dan bulat akan menyapu pandang gadis-gadis yang turut berjejer di pinggir jalan, dan hidungnya yang besar menonjol itu akan bergerak-gerak kembang-kempis. “Hau-hau-hau, hau-hau-hau. Awawawa…,” sambil tertawa, Jey akan kembali menggenjot sepedanya, meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri, dan semakin lama lajunya makin cepat. Ia akan menghilang di sebuah tikungan jalan yang agak jauh, bersamaan dengan menghilangnya suaranya. Disusul gelap yang jatuh.
***
Tak ada yang ingat persis sejak kapan Jey memanfaatkan sore hari sebagai etalasenya di desa ini. Tapi tanpa mereka sadari, atraksi Jey di sore hari seperti itu telah lama menjadi hiburan tersendiri. Sore hari berasa semarak, penuh tawa dan sorak. Saat gelap jatuh, orang-orang menyambut malam dengan perasaan lega. Seakan, beban hidup sepanjang hari berlalu begitu saja bersamaan dengan menghilangnya Jey ditelan tikungan jalan. Dan tidur mereka pun menjadi nyenyak.
Tapi sore itu mendung menudungi langit desa ini. Hingga petang menjelang, tak terdengar suara “Awawawa…awawawa…awawawa…” sebagai tanda kemunculannya. Hingga beduk maghrib ditabuh, tak ada suara gemerincing sepeda jawa melintas. Tak ada derai tawa dan sorak. Alam berasa ngelangut.
Sehabis maghrib beredar kabar dari mulut ke mulut yang menyebut Jey meninggal dunia. Entah karena apa. Orang-orang desa merasa kehilangan, bersedih. Bakda isya, berduyun-duyun warga desa ikut mengantarkan jenazah Jey ke pemakaman. Bahkan, Kiai Idris yang memimpin proses pemakaman diiringi lima orang santrinya.
Semua orang yang berada di pemakaman memberikan penghormatan dengan cara masing-masing. Ada yang berebut menggendong jenazahnya untuk dimasukkan ke liang lahat. Ada yang ikut mengurukkan tanah ke liang lahat. Ada yang berkomat-kamit mendesiskan ayat-ayat suci. Saat semua tahapan pemakaman usai dilaksanakan dan urukan terakhir berhenti, orang-orang mulai melangkah keluar dari kuburan.
