Kekasih Allah

Lima orang santri, begitu menyadari Kiai Idris tak berjalan beriringan dengan mereka, menghentikan langkah persis di gapura kuburan. Mereka kaget saat melihat Kiai Idris, dalam siraman cahaya bulan, masih duduk tepekur seperti patung di samping makam Jey. Tak ada yang bisa dilakukan, mereka hanya menunggu dengan duduk-duduk di sekitar gapura kuburan sambil melihat-lihat langit cerah yang dipenuhi bintang-bintang. Hanya mereka berenam yang masih tinggal di kuburan itu.

Mereka kemudian saling menoleh ketika angin dingin mulai terasa menggigit tubuh, pertanda malam telah larut. “Ayo kita susul kiai,” ajak salah seorang santri. Mereka kemudian berjalan kembali ke arah makam Jey.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kiai menangis?” tanya seorang santri saat melihat mata sembab Kiai Idris.

Sambil mengusap matanya dengan surban, Kiai Idris menjawab, “Ditinggal mati orang selucu ini, sama sedihnya seperti ditinggal mati ulama besar.”

“Kenapa begitu, Kiai?”

“Kalianlah saksinya,” kata Kiai Idris, “Jey adalah kekasih Allah, orang yang dicintai Allah. Jey adalah orang yang sangat ikhlas dengan dirinya apa adanya. Jey adalah orang sangat ikhlas dengan peran hidupnya. Tugasnya adalah membuang kesedihan, membuat orang-orang senang. Dan itu telah dijalankannya dengan baik, penuh keikhlasan….”

Para santri itu hanya bisa menunduk, memandangi tanah lempung yang menyelimuti makam Jey.

Tinggalkan Balasan